Mengintip Tradisi “Nyewu” Muslim Tengger

Muslim Suku Tengger dalam Tradisi “Nyewu” (Gambar diambil dari web Life.indozone.id)

DIORAMALANG.COM, 14 MARET 2024 – Suku di Indonesia yang banyak dan beragam, membuat kita sebagai warga negara Indonesia hendaknya saling bertoleransi terhadap sesama. Keanekaragaman ini pula menjadikan Indonesa semakin kaya akan kebudayaan. Warna-warni ini melahirkan berbagai macam tradisi pada tiap-tiap suku. Salah satunya yakni tradisi yang dimiliki oleh Suku Tengger.

Tradisi yang ada di suku ini kerap dilakukan oleh warga dengan berbagai latar belakang agama yang ada baik itu agama Islam maupun agama Hindu. Tradisi ini disebut dengan “Nyewu”. Adanya tradisi tersebut tidak menjadikan perpecahan pada Suku Tengger. Tradisi Nyewu ini sebetulnya sama, hanya penamaanya berbeda. Nyewu lebih dikenal sebagai tradisi yang dilakukan oleh warga beragama Islam, sedangkan untuk warga beragama Hindu mereka melakukan tradisi Nyewu dengan sebutan entas-entas.

Menurut Rahmi Febriani dan kawan-kawan, dalam jurnal penelitiannya menjelaskan bahwa Tengger adalah sebuah Pusaka Saujana (cultural landscape) yang hidup dengan nilai-nilai luhur yang dianut oleh Masyarakat Tengger dan diejawantahkan melalui pelaksanaan ritual adat. Di dalamnya termuat semangat, nilai, dan pesan-pesan pluralisme, multikulturalisme, toleransi, kegotongroyongan, persatuan, dan keutuhan (utility) dalam bermasyarakat.

Tujuan dari tradisi Nyewu yang dilakukan oleh Muslim Suku Tengger dimaksudkan untuk mendoakan para leluhur yang sudah tiada. Tradisi ini sering kali dilakukan saat hendak melaksanakan hajatan. Sedangkan untuk umat Hindu Suku Tengger yang melaksanakan entas-entas juga memiliki tujuan yang hampir sama dengan Nyewu,

Ada pun perbedaan dari tradisi Nyewu antara umat Islam dan Hindu Suku Tengger yaitu, menurut Sugeng Laksono warga Wonokerto pada Memox.co.id dalam Tradisi Nyewu, perlengkapan sesajen tidak memakai ayam panggang. Melainkan limas yang terbuat dari daun pisang, yang diikat dengan janur. Berisi nasi dan lauk pauk serta jajan pasar. Lalu ada pula Cepel untuk tempat beras, sebutir kelapa, gula, pisang satu sisir, kendil, lampu tempel, bantal, tikar, sepasang sandal, paying, janur, dan kain kafan sebagai pembungkus. “Satu set perlengkapan sesajen itu untuk satu leluhur yang di selamati, atau istilahnya di “Sewu”, imbuh Sugeng Laksono.

Satu set sesajen Nyewu yang dijadikan rebutan oleh  Muslim Suku Tengger pada tradisi Nyewu (gambar diambil dari web Memox.co.id)

Hal pertama yang dilakukan dalam pelaksanaan Nyewu adalah dengan menata satu set perlengkapan satu set sesajen tersebut. Setelah sajen tersebut sudah tertata, kemudian para tamu undangan bersama-sama membacakan surat Yasin dan Tahlil. Adapun maksud dari pembacaan Yasin dan Tahlil yaitu untuk para leluhur atau kerabat yang sudah tiada. Setelah pembacaan do’a kemudian sesajen yang sudah tertata dijadikan rebutan tamu undangan yang hadir.

Pada tradisi Nyewu yang dilakukan oleh umat Muslim Suku Tengger ini sebagai salah satu dari banyaknya tradisi pada Suku Tengger. Tradisi Nyewu ini terus menerus dilakukan lazimnya sehari sebelum acara khitanan atau bahkan pernikahan, tujuannya adalah untuk memohon keselamatan pada Tuhan.

Oleh karena itu, berkembangnya zaman yang terus menerus terjadi saat ini jangan jadikan tradisi dari para leluhur terlupakan. Menjaga dan melestarikan tradisi saat ini sudah menjadi tugas kita saat ini ya Ker! (Siw)

Penulis: Shofiyatul Izza W.
Editor: Rofidah Noor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.