Kisah Dibalik Monumen TGP Malang

Monumen Tentara Genie Pelajar (TGP) Malang (Gambar diambil dari web Ngalam.co)

DIORAMALANG.COM, 5 AGUSTUS 2020 – Sebuah monumen biasanya dibangun, untuk menghormati suatu tokoh atau suatu peristiwa yang penting yang telah terjadi di masa lalu. Begitupun dengan monumen Tentara Genie Pelajar (TGP ) yang berada di depan pintu ekonomi sebelah timur Stadion Gajayana Malang, atau lebih tepatnya di persimpangan Jalan Semeru dan Jalan Tangkuban Perahu, Kota Malang. Dimana keberadaan monumen ini ternyata menyimpan sebuah kenangan akan sejarah perjuangan yang pernah terjadi di Kota Malang.

Uraian dalam Artikel Penelitian milik Moch. Agus Rizal Salis, Tentara Genie Pelajar mulai terbentuk pada 14 Oktober 1946. Di mana pada saat itu suasana sedang dalam gencatan senjata dan sedang dirintis upaya perundingan antara Rakyat Indonesia dan Belanda yang akhirnya menghasilkan perjanjian Linggarjati.

Dengan tidak adanya tugas operasional pembelaan negara, maka para pejuang bersenjata akhirnya menarik diri dari medan pertempuran untuk belajar kembali menekuni pendidikan di sekolah.

Pada saat itu sekolah sudah mulai didirikan kembali pada empat lokasi yang berbeda yaitu Lawang, Malang, Blitar, dan kediri. Namun khusus bagi murid kelas III STN/SMTT (saat ini dikenal dengan SMA/SMK) mereka akan ditempatkan di Lawang dan diasramakan di Jalan Sumberwaras Lawang.

Setelah berlangsung kurang lebih 5 bulan ada kenaikan kelas, akhirnya sekolah dipindah lagi ke Kota Malang. Selama berada di Kota Malang, mereka menumpang di Gedung Katholik Corjesu (yang saat ini berada di depan Rumah Sakit Umum Celaket Malang.

Namun tidak berapa lama, sekolah akhirnya dipindahkan lagi ke SMP Kristen yang berlokasi di Jalan Semeru No. 42 Malang, dari sinilah tempat kelahiran kesatuan Tentara Genie Pelajar (TGP) yang berada dibawah pimpinan Sunarto akhirnya terbentuk, tepatnya pada tanggal 2 Februari 1947.

Pada awal terbentuk, mayoritas anggota TGP adalah mantan anggota Pasukan STS (Sekolah Teknik Surabaya) yang sebelumnya menempuh pendidikan di Malang. Asrama SMTT (Sekolah Menengah Tinggi Teknik) yang terletak di jalan Jalan Ringgit digunakan sebagai markas utama TGP.

Pada saat itu organisasi TGP terbagi menjadi 5 seksi yaitu Seksi Sappeur (penghancur), Seksi Mineur (pemasang ranjau), Seksi Perhubungan, Seksi Fabricage (pembuat senjata), dan Seksi Kendaraan.

Laporan informasi dari Ngalam.co, selama jeda perjanjian Linggarjati ternyata dimanfaatkan oleh pasukan TGP untuk merekrut anggota baru, pembentukan kesatuan baru ini diawali dengan acara pendidikan dan latihan. Baik itu dalam dasar-dasar militer maupun spesialisasi tugas seorang anggota TGP.

Ajang ini diselenggarakan selama dua minggu di Kesatrian Rampal Malang, bersamaan dengan itu juga dilakukan aksi anjuran untuk membentuk satuan TGP dan bergabung dengan TGP Malang. Sedangkan latihan dasar kemiliteran dilatih oleh para pelatih dari sekolah Kadet Angkatan Laut Malang.

Meski belum genap enam bulan usia TGP saat itu, mereka sudah harus menghadapi ujian pertama yang berat yaitu harus ikut menghadapi Agresi Militer Belanda I yang jatuh pada tanggal 21 Juli 1947.

Pada saat itu pasukan TGP diminta untuk membumi hanguskan Kota Malang, dalam rencana ini pasukan TGP diminta untuk menghancurkan beberapa gedung penting dan juga akses jalan yang biasanya dilewati oleh para pasukan tentara Belanda.

Tindakan pertama yang dilakukan pasukan TGP adalah meminta kesediaan para kepala kantor, seperti Kantor Telepon, RRI, Perusahaan Listrik dan Stasiun Malang agar bersedia bila gedungnya diledakan.

Setelah para kepala kantor bersedia dalam rencana penghancuran gedung, mereka langsung mengungsikan alat-alat penting mereka ke Ngebruk dan Sumberpucung agar aman dari pasukan tentara Belanda.

Dalam Jurnal Prodi Ilmu Sejarah milik Satriana Raka Chrisma Putra, menjelaskan bahwa serangan Belanda pada tanggal 21 Juli 1947 sebenarnya bertujuan untuk menduduki daerah yang ada Indonesia, karena Indonesia dianggap memiliki peran penting baik dari segi ekonomi maupun dari segi politik.

Aksi yang dilakukan pihak Belanda ini, akhirnya mendapatkan perhatian dari dunia Internasional, sehingga Indonesia dan Belanda kembali dipertemukan di meja perundingan. Kali ini perundingan ditengahi oleh KTN (Komisi Tiga Negara) bentukan PBB.

Pada tanggal 17 Januari 1948, Perjanjian Renville akhirnya resmi ditandatangani oleh kedua belah pihak dan menjadi akhir dari Agresi Militer Belanda I.

Atas perjuangan panjang para pasukan TGP inilah, akhirnya didirikan sebuah monumen bersejarah untuk memperingati dan mengenang jasa-jasa dari para Tentara Genie Pelajar (TGP).

Penjelasan dari Ngalam.co, monumen TGP, berbentuk sebuah patung dengan dua sosok dari seorang tentara muda yang memegang sebuah senjata. Ada yang menenteng senjata laras panjang dan ada yang memegang mortir dengan bertulisan Trek-Bom dengan pistol di pinggangnya.

Tidak lupa juga pada empat kaki pilar yang menopang patung, terdapat sebuah plakat yang serupa dengan sebuah batu nisan. Dimana di setiap kaki pilar, terdapat sebuah tulisan dari nama-nama para pejuang TGP yang telah gugur pada masa pertempuran.

Untuk kamu yang ingin menemukan monumen ini sebenarnya cukup mudah, karena posisinya berada di depan pintu ekonomi sebelah timur Stadion Gajayana Malang, atau lebih tepatnya di persimpangan Jalan Semeru dan Jalan Tangkuban Perahu, Kota Malang. Yuk! Pelajari sejarah perjuangan, agar kisahnya tidak terlupakan. (SYZ).

Penulis: Syaifudin Zuhri

Editor: Shofiyatul Izza W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.