Ini Dia Mak Nem, Sosok Dibalik Perut Kenyang Tahanan Polres Malang

Kasinem, Juru Masak Tahanan Polres Malang Sejak Tahun 1970 (Gambar diambil dari web Merdeka.com)

DIORAMALANG.COM, 29 JULI 2020 – Setiap manusia itu sama dan harus diperlakukan dengan adil, mereka wajib mendapatkan haknya masing-masing seperti pada kebutuhan sandang, pangan, dan juga papan. Manusia layak mendapatkan ketiganya, terlebih kebutuhan untuk makan. Makanan adalah kebutuhan primer semua orang. Jadi, kebutuhan yang satu ini amat sangat mendasar demi keberlangsungan hidup manusia. Apalagi untuk meningkatkan stamina saat bekerja.

Di Kabupaten Malang, ada “malaikat” yang berjasa dalam menyajikan makanan untuk para tahanan. Sosok ini bernama Kasinem, atau yang lebih akrab disapa dengan sebutan Mak Nem. Nenek berusia lebih dari 70 tahun ini, sudah bekerja di Polres Malang selama hampir 34 tahun.

Sebelumnya ia sudah pernah bekerja di Polres Kota Malang pada tahun 1970. “Saya mulai di sini (Polres Malang) tahun 1986, tetapi kalau di Polres Kota Malang sejak tahun 1970. Dulu yang memberi tempat di sini Pak Jaya Admadja,” tegasnya yang dikutip dari Merdeka.com.

Singkatnya, Mak Nem sudah bekerja menjadi juru masak tahanan sejak tahun 1970. Kemudian satu tahun setelahnya, ia melayani makan para tahanan Polres Malang Kota. Namun pada tahun 1986 berpindah ke Kepanjen atas arahan Kapolres AKBP Budi Mahmudi, yang kala itu menjabat.

Sebenarnya Mak Nem disini bukan bertugas khusus untuk menyiapkan makanan para tahanan, Mak Nem cuma kebagian melayani makan mereka pada saat bulan Ramadhan. Selebihnya ia menyediakan makanan di kantin Polres yang ditujukan untuk umum, tetapi mayoritas pengunjungnya adalah staff yang bekerja di Polres dan para jurnalis.

Kasinem, Juru Masak yang Menyiapkan Berbagai Menu Untuk Tahanan Polres Malang (Gambar diambil dari web Merdeka.com)

Kala Ramadhan tiba, ia jadi dua kali super sibuk dibandingkan biasanya. Mak Nem sudah harus mulai masak setiap pukul 12.00 WIB. Dengan 3 orang anaknya dan 2 orang keponakannya, Mak Nem memasak dengan segenap hati. Masing-masing mereka punya peran berbeda, ada yang bertugas untuk berbelanja, mengolah aneka bahan makanan, memotong sayuran, dan adapula yang harus mengecek jumlah tahanan yang masuk.

Bungkusan Makanan untuk Diberikan ke Tahanan Polres Malang (Gambar diambil dari web Jawapos.com)

Kemudian pada pukul 16.00 WIB semua makanan sudah harus dibungkus dan dikirimkan. Setelah tugas pertama berakhir, Mak Nem akan kembali bekerja pada pertengahan malam. Kegiatannya itu kembali dilakukan pada pukul 24.00 WIB, Mak Nem dan anaknya harus menyiapkan makanan untuk makan sahur. Kesibukannya ini akan berakhir pukul 03.30 WIB, saat makan sahur sudah dikirimkan ke sel tahanan yang berjarak sekitar 15 meter dari tempat tinggalnya.

Meski yang dilayaninya adalah “orang berkasus”, tapi Mak Nem tetap mencurahkan semua hal baik ketika memasak. Laporan dari Liputan6.com, menjelaskan jika Mak Nem mengaku tidak pernah libur dan bekerja tujuh hari dalam seminggu. Pekerjaan itu dijalani dengan ikhlas, yang sekaligus menjadi amal dan ibadahnya.

Penjelasan dari Malangvoice.com, selama 46 tahun menjadi juru masak tahanan, menurutnya tidak ada duka yang menonjol, semua dia jalani dengan senang hati. “Tahanan makannya enggak rewel, mereka manut. Tapi Mak memang harus bisa buat menu macam-macam, biar mereka enggak bosan,” jelas Mak Nem.

Kebaikan Mak Nem mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, tetapi perlu kita sadari bahwa dengan berlaku kriminal, bukan berarti menjadikan tahanan sebagai manusia yang berbeda. Mereka juga wajib mendapatkan haknya untuk makan.

Ihwal ini sudah tertuang pada Pasal 14 ayat 1 huruf D dalam Undang-undang Pemasyarakatan, yakni narapidana mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak. Berdasarkan Pasal 19 ayat (1) PP 32/2009, setiap narapidana berhak mendapatkan makanan dan minuman sesuai dengan jumlah kalori yang memenuhi syarat kesehatan.

Namun sayang, menurut Primawardani dalam jurnalnya menyatakan, minimnya biaya makanan di Lapas menyebabkan narapidana atau tahanan kekurangan sumber zat gizi yang dibutukan oleh tubuh untuk tumbuh dan memelihara kesehatan. Kualitas makanan dipengaruhi banyak faktor, seperti proporsi komponen mayor (lemak, protein, dan karbohidrat) dan kandungan komponen minor yang meliputi vitamin dan mineral.

Fenomena tersebut sangat memprihatinkan mengingat Deklarasi Universal tentang Pemberantasan Kelaparan dan Kekurangan Gizi yang diadopsi pada 16 November 1974 oleh Konferensi Pangan Dunia menyatakan bahwa setiap pria, wanita dan anak memiliki hak mutlak untuk bebas dari kelaparan dan kekurangan gizi dalam rangka untuk mengembangkan sepenuhnya dan mempertahankan kemampuan fisik dan mental mereka. (Rof)

Penulis: Rofidah Noor

Editor: Shofiyatul Izza W

2 thoughts on “Ini Dia Mak Nem, Sosok Dibalik Perut Kenyang Tahanan Polres Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.