Topeng Malangan: Seni Budaya Menarik Namun Mistik

Ukiran Topeng Malangan yang dibuat di Padepokan Panji Asmoro Bangun (Foto: Alvien Wardhana)

DIORAMALANG.COM, 18 OKTOBER 2020 – Seni dan budaya telah menjadi bagian yang khas dari kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap daerah yang ada di Tanah Air ini memiliki keseniannya dengan ciri yang berbeda. Mulai dari seni tari, seni rupa, seni musik dan masih banyak yang lainnya. Di provinsi Jawa Timur sendiri terkenal akan seni tarinya, apalagi di Malang. Kesenian tari yang sangat populer dari Malang yaitu tari topeng. Di mana setiap topeng yang ada di Malang memiliki ciri khas tersendiri daripada topeng yang berasal dari daerah lain.

Oleh karena itu setiap topeng yang akan dipakai memiliki makna dan filosofi tersendiri, hal tersebut membuat setiap penari yang akan memakainya harus tahu akan cerita atau kisah dibalik setiap tokoh topeng yang akan digunakan.

Mungkin menjadi hal yang wajar jika wayang dan topeng memiliki banyak kesamaan, akan tetapi di sisi lain ada pula beberapa perbedaan yang dimilki. Salah satunya adalah wayang pada umumnya sering dipertunjukkan dengan tangan dan bahan yang berasal dari kulit, sedangkan topeng sendiri ditempelkan atau dipakai ke wajah seseorang untuk diperagakan.

Penjelasan Wayang Topeng Malangan juga diutarakan oleh Rihadi (2002) dalam Jurnal Seni Budaya milik Arining Wibowo dan kawan-kawan bahwa seni Wayang Topeng Malangan dapat dipersepsikan sebagai pertunjukan drama atau tari Wayang Topeng Malangan dan kreasi pembuatan Topeng Malangan. Perubahan pada pertunjukan dan kreasi pembuatan topeng saling berkaitan, karena tidak hanya pertunjukan Wayang Topeng Malangan yang mensyaratkan penggunaan topeng, khususnya hasil kreasi dari pengrajin atau seniman tertentu.

Di Malang sendiri, pengembangan Wayang Topeng Malangan dapat ditemukan di beberapa lokasi di Malang, namun salah satu sentra kesenian topeng yang paling melegenda di Malang Raya adalah Padepokan Seni Asmoro Bangun yang lokasinya berada di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Padepokan Asmoro Bangun didirikan oleh seorang maestro tari bernama Karimoen atau yang kerap disapa sebagai Mbah Karimoen.

Padepokan Asmoro Bangun sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan seni budaya asli Malang berupa Topeng Malangan. Pasalnya, padepokan ini tidak hanya sebagai tempat produksi Topeng Malangan, melainkan juga digunakan untuk pelatihan dan pertunjukkan seni Tari Topeng Malangan.

Padepokan Panji Asmoro Bangun yang digunakan untuk pelatihan dan pertunjukkan seni Tari Topeng Malangan (Foto: Moh. Fiqih Aldy M)

Menariknya, dalam pertunjukan Topeng Malangan di Padepokan Seni Asmoro Bangun ini diperlukan adanya ritual atau prosesi khusus yang sudah menjadi tradisi dalam pementasan pertunjukan topeng dengan sebutan Gebyak. Pelaksaan Gebyak terjadi setiap Malam Senin Legi. Lebih tepatnya Gebyak dilakukan secara khusus pada hari tertentu saja yakni pada Minggu Kliwon Malam Senin Legi yang dipercaya menjadi hari keramat.

Para tetua di Dusun Kedungmonggo mempercayakan hari Minggu Kliwon Malam Senin Legi sebagai hari keramat karena bertepatan dengan hari lahir dusun dalam penanggalan Jawa. Ritual ini dibuka dengan ritual pembuka yang menjadi tanda di mana sedekah bumi dan bersih desa dilaksanakan.

Adapun tujuan pelaksanaan ritual yang dilakukan sebelum acara Topeng Malangan meliputi banyak hal. Menurut Fatqiah Arinda yang merupakan warga Malang menyimpulkan, bahwa tujuan dilakukannya ritual adalah untuk menunjukkan rasa syukur atas kekayaan alam dan sebagai tanggung jawab pada pelestarian budaya leluhur.

Sedangkan Djoko Rendy, seniman asal Kota Malang yang sudah punya jam terbang tinggi dalam pengenalan Topeng Malangan pada masyarakat luas menilai, bahwa tujuan pelaksaan ritual adalah demi Nguri-uri Budhoyo, istilah bahasa Jawa yang memiliki arti menjaga dan melestarikan kebudayaan nenek moyang (leluhur) yang adiluhung, dengan tetap menerapkan edukasi pada masyarakat.

Djoko juga mengungkapkan bahwa pelaksaan ritual ini punya nilai penting untuk sarana hiburan, pertunjukan bagi masyarakat, sekaligus menjadi tuntunan.

Proses ritual yang hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu (Foto: Tri Handoyo)

Di lain sisi, ritual tidak hanya dilakukan pada saat pertunjukan saja, melainkan juga dilakukan pada saat pembuatan Topeng Malangan sendiri. Dalam proses penciptaan sebuah Topeng Malangan, ada syarat ritual yang wajib untuk dilakukan. Tujuan dari ritual ini sendiri selain untuk menghormati para leluhur pendahulu, ternyata juga bertujuan agar setiap topeng yang diciptakan kelak dapat memiliki Yoni (karisma).

Pada umumnya sebelum membuat topeng biasa, hanya harus menyiapkan bahan dan alatnya saja baru membuat desain topengnya. Namun pada beberapa pembuatan tokoh yang akan dibuatkan topeng sendiri harus melalui beberapa tahapan-tahapan yang telah diwariskan oleh leluhur, hal itu sudah menjadi tradisi yang wajib dilakukan oleh pembuatnya. Tahapan-tahapan tersebut tidak lepas dari hal mistik karena sudah menjadi tradisi yang turun-temurun.

Ritual yang dilakukan dengan beberapa Topeng Malangan (Foto: Ari Bowo Sucipto/Antarafoto.com)

Ritual dalam membuat Topeng Malangan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu saja seperti pewaris kelima Mbah Karimun yaitu Tri Handoyo. Hingga saat ini, ialah satu-satunya yang dapat menjalani ritual pembuatan Topeng Malangan. Diperlukan beberapa tahapan-tahapan khusus yang harus dilalui.

Tahapan yang harus dilalui diantaranya adalah pemilihan hari, pemilihan bahan, dan yang terakhir adalah pengerjaan. Lalu apa saja yang harus dipersiapkan sebelum ritual ini dimulai? Pertama yaitu sesaji atau sajen, pada sajen tersebut terdapat pisang setangkep atau pisang dua sisir, lalu kelapa, beras, bumbu kinangan, bumbu dapur, dan sebagainya. Adanya sajen ini sebagai salah satu tanda penghormatan pada leluhur yang telah memberikan kesenian sehingga dapat menyenangkan orang banyak.

Media selanjutnya yang dipersiapkan untuk ritual Topeng Malangan yaitu dupa, kemenyan, dan juga topeng itu sendiri. Selain itu persiapan yang harus dilakukan pada pelaku ritual adalah bersuci layaknya orang yang akan melakukan ibadah shalat. Raga yang dibutuhkan haruslah bersih yang dilakukan dengan kegiatan mandi dan mencuci rambut, begitu juga dengan pakaian dalam yang dikenakan harus bersih.

Ritual yang dilakukan dalam proses pembuatan Topeng Malangan ini, memerlukan bahan utama kayu yang usianya hampir 50 tahun. Untuk mendapatkan bahan baku tersebut tentu tidak diambil dari sembarang tempat, kayu itu diperoleh dari punden yang merupakan tempat spiritual tinggi.

Sebelum melakukan pengerjaan pada Topeng Malangan dilakukan tahap pemilihan hari. Hari yang baik menurut Tri Handoyo ada tiga. “Hari yang baik itu menurut saya ada tiga, hari baik menurut umum, hari baik menurut daerah setempat, dan hari yang baik untuk kita sendiri,” ungkapnya.

Selain itu sebelum melakukan pengerjaan Topeng Malangan pertama kali atau biasa disebut dengan Bakalan harus dilakukan kegiatan berpuasa selama satu hari. Kegiatan berpuasa tersebut bertujuan untuk menguatkan karakter atau tokoh yang akan dibuat nanti.

Setelah hari yang ditentukan sudah terpilih, tahap selanjutnya adalah membuat kerangka awal.Kerangka yang dibuat tersebut bisa berjumlah satu sampai dengan lima biji. Dari tahap bakalan inilah nantinya akan terlihat tokoh yang dipakai atau karakter yang akan dibuat. Hingga kemudian masuk ke proses ragam hias pembuatan Topeng Malangan mulai dari hidung, tempat mata, mulut, dan sebagainya.

Setelah bentuk karakternya sudah bondo atau nampak, perlu dilakukan proses menghias pada Topeng Malangan. Pada proses ragam hias ini memakan waktu yang lama, karena dalam proses memberikan ornamen pada Topeng Malangan ini harus mengikuti hitungan hari Jawa atau Pasaran.

Contohnya, ketika salah satu karakter sudah terbentuk pada hari Sabtu Pahing, kemudian dihitung pasarannya, hari Sabtu memiliki hitungan sembilan dan Pahing memiliki hitungan sembilan.

Lalu hitungan hari Sabtu dan Pahing tersebut dijumlah dan memiliki pasaran 18. Dari jumlah itulah diperbolehkan untuk membuat daun, tempat rambut hanya sebanyak 18 biji saja. Begitu juga dengan hari-hari selanjutnya hingga pembuatan Topeng Malangan sampai pada proses pelubangan dan pengecatan.

Hingga pada tahap ritual yang terakhir pembuatan Topeng Malangan, pembuat topeng perlu berdoa di punden dengan membawa Topeng Malangan yang telah selesai dikerjakan. Berdoa di punden tersebut juga sebagai salah satu ritual untuk memberi kabar pada leluhur bahwa ada topeng baru yang akan dipakai nantinya untuk menari.

Dalam ritual di punden ini selain terdapat Topeng Malangan tersebut, adapula sandingan atau beberapa perlengkapan berupa dupa yang berbentuk kemenyan dan bunga.

Berbicara tentang ritual maka tidak akan terlepas dari suatu ilmu yang digunakan. Sebagian besar masyarakat mempercayai bahwa hal tersebut pasti memiliki keterkaitan. Seperti yang diungkapkan oleh Fatqiah Arinda yang merupakan warga asli Malang yang mana ia menyatakan bahwa sangat wajar ketika pembuatan topeng dilakukan dengan ritual, karena pada zaman dahulu pembuatan karya seni seperti itu pasti tidak jauh dari sebuah ritual.

Dalam masyarakat Jawa sendiri, terdapat beberapa ilmu yang banyak ditemukan dalam ritual seni budaya di antaranya adalah ilmu Islam, ilmu Jawa, dan juga campuran antara kedua ilmu tersebut. Dalam konteks ritual sebelum pembuatan Topeng Malangan, ilmu yang digunakan adalah ilmu Kejawen atau ilmu Jawa, di mana ilmu tersebut merupakan ilmu yang diwariskan dari para leluhur.

“Kebanyakan, orang-orang yang ikut dalam kesenian topeng ini mereka ikut kejawen. Jadi kejawen ini sebuah aliran kepercayaan tapi bukan agama. Sedangkan doa-doa yang dipakai di dalam ritual tersebut adalah doa-doa Jawa,” jelas Tri Handoyo.

Pengertian kejawen sendiri, dijelaskan oleh Sulkhan Chakim dalam Jurnal Dakwah dan Komunikasi di mana bagi orang Jawa yang dalam hal ini disebut dengan kejawen, adalah masyarakat yang memiliki pendekatan kebatinan atau rasa dalam diri manusia untuk mencapai eksistensi yang tinggi sebagai manusia. Tentunya, mencakup pandangan orang Jawa terhadap dunia Jawa, laku, dan olah batin bagi kejawen.

Ilmu tersebut ternyata sangat berpengaruh pada hasil karya Topeng Malangan. Uniknya, topeng yang dihasilkan melalui proses ritual akan semakin menarik dan memiliki hasil yang memuaskan. Berbeda dengan topeng yang dibuat tanpa ritual, di mana hasil karya topeng akan terlihat aneh. Keanehan tersebut bahkan tak jarang bersangkutan dengan hal-hal di luar nalar manusia.

Tri Handoyo menjelaskan bahwa menurut pengalamannya sangat berbeda antara topeng yang hanya dibuat biasa melalui proses secepat mungkin dan bahan kayu yang biasa dengan kualitas kayu yang berbeda dan tahapan pembuatan yang agak lama sehingga sangat berdampak besar.

Ia juga menceritakan di mana dahulu saat masih muda, Handoyo pernah mencoba membuat topeng dengan bahan kayu yang tidak disarankan atau bahkan tidak diperbolehkan oleh leluhurnya. Namun rasa penasaran Handoyo sewaktu muda membuat ia menciptakan topeng dengan kayu kamboja di mana kayu tersebut tidak boleh digunakan dalam pembuatan topeng.

Alhasil muncul keanehan-keanehan di luar nalar di mana kayu yang dipotong hanya memiliki panjang satu meter akan tetapi tidak bisa dibawa hingga empat orang. Hal tersebut membuat kayu kamboja harus digotong dengan menggunakan bambu sebagai tandu dan dibawa sepeti layaknya orang meninggal.

Keanehan tidak berhenti di situ saja. Di saat pengerjaan awal membuat topeng dengan kayu kamboja, tangan Handoyo terkena pisau tepat di urat nadi. Darah yang menyembur pun tepat jatuh di topeng yang dibuatnya dengan kayu kamboja tersebut. Meski begitu topeng tersebut tetap berhasil dibuat.

Namun bukan berarti tidak meninggalkan keanehan-keanehan yang tidak bisa dijangkau oleh logika. Keanehan berlanjut dan berdampak pada Handoyo di mana ia mengalami sakit selama satu minggu setelah topeng tersebut jadi. Meskipun cerita tersebut tidak logis, namun cerita dari Handoyo sang pembuat topeng tersebut benar-benar terjadi.

Maka bisa dikatakan bahwa pelaksanaan ritual sebelum membuat Topeng Malangan sangatlah penting. Selain sebagai bentuk penghormatan, ritual dipercaya mampu memperlancar proses pembuatan Topeng Malangan dengan hasil yang memuaskan.

Adanya ritual dalam pembuatan Topeng Malangan, senada dengan pandangan yang dijelaskan oleh salah satu pemerhati budaya di media sosial Instagram @Malangberbudaya, Akhmad Nur Hasyim. “Ritual dalam pembuatan Topeng Malangan itu wajar, karena pohon atau kayu sebelum ditebang merupakan makhluk hidup juga. Ritual dalam pandangan saya lebih ke hormat kepada yang membuatnya hidup. Sebagai sarana berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberi kelancaran dalam membuat Topeng Malangan,” jelasnya.

Proses pembuatan Topeng Malangan di Padepokan Panji Asmoro Bangun (Foto: Moh. Fiqih Aldy M)

Adanya ritual dalam pembuatan Topeng Malangan telah memberikan dampak tersendiri. Bahkan dari segenap ritual yang dilaksanakan berhasil memicu pengaruh pada pelaku kesenian dan juga masyarakat. Contohnya pada kesejahteraan pelaku kesenian yang ekonominya terbantu lewat Topeng Malangan. Lantas bukan hanya itu, pengaruh besaran minat pada kesenian Topeng Malangan juga timbul di masyarakat berkat serangkaian ritual.

Fatqiah mengatakan bahwa di era modern seperti saat ini besaran minat masyarakat khususnya generasi muda pada Topeng Malangan tidak akan muncul dalam jumlah besar. Karena dewasa ini generasi muda banyak yang terpengaruh dengan budaya asing seperti budaya barat dan budaya Asia Timur.

Namun Djoko Rendy menyebutkan bahwa pengaruh minat masyarakat pada Topeng Malangan dapat terjadi melalui berbagai cara baik berbentuk metafisik maupun nalar. Jadi, selain pengenalan lewat ritual, hal-hal seperti pengembangan juga harus dilakukan. Misal dengan bentuk sajian berupa tumpeng atau bentuk aroma wewangian.

Ucapan-ucapan baik berupa doa juga perlu digaungkan dengan tujuan Nguri-uri Budhoyo yang tak boleh dilepaskan. “Taktik strategi boleh berubah, kesenian tradisi tak boleh hilang. Boleh burung terbang di atas kepala kita (seni modern atau mancanegara), namun jangan nelek atau bertelur di atas kepala kita,” terang Djoko pada Dioramalang.com.

Namun segelintir ritual-ritual yang dilakukan justru menjadi pertanyaan dengan relevansinya di zaman modern seperti saat ini. Kendati demikian, tidak semua pembuatan Topeng Malangan dilakukan dengan ritual. Menurut Handoyo, pembuatan Topeng Malangan terbagi menjadi tiga yaitu:

  • Topeng untuk souvenir
  • Topeng untuk menari (pertunjukan Wayang Topeng)
  • Topeng yang di pesan secara khusus

Topeng yang dibuat untuk souvenir, bahan baku yang digunakan biasanya murah, mudah didapat dan cepat pengolahannya. Kayu yang digunakan untuk membuat topeng souvenir biasanya adalah kayu randu atau kayu sengon. Ukuran topeng untuk souvenir biasanya juga lebih kecil dari topeng yang biasanya digunakan untuk menari, karena topeng ini biasanya hanya digunakan sebagai sebuah aksesoris saja.

Kemudian pada topeng yang digunakan untuk menari, kayu yang digunakan biasanya adalah kayu sengon. Menurut Handoyo, jenis kayu tersebut lebih mudah dibentuk, ringan, dan cukup tahan lama. Untuk topeng jenis ini, biasanya akan lebih kaya akan ornamen atau ukiran karena topeng jenis ini nantinya akan digunakan untuk sebuah pertunjukan.

Untuk topeng yang dipesan secara khusus, biasanya topeng akan dibuat dengan sangat cermat dengan memperhatikan aspek esoterik (sesuatu yang hanya dimengerti oleh sebagian orang saja) dan aspek eksoterik (pengetahuan yang boleh diketahui atau dimengerti oleh siapa saja).

Untuk membuat topeng khusus ini, kayu yang digunakan biasanya adalah kayu yang berasal dari pohon beringin tua yang tumbuh di sekitaran petilasan leluhur Desa Kedungmonggo.

Topeng yang dibuat hanya untuk aksesoris (Foto: Moh. Fiqih Aldy M)

Beragam topeng tersebut diciptakan untuk memenuhi kebutuhan para masyarakat yang ingin memiliki Topeng Malangan baik untuk koleksi atau hanya sekedar aksesoris. Pasalnya, tidak semua masyarakat bisa memiliki Topeng Malangan yang dibuat melalui proses ritual. Maka dari itu, saat ini Topeng Malangan telah mengalami banyak perubahan.

Menurut Arining Wibowo dkk, dalam penelitiannya dikatakan bahwa Topeng Malangan yang telah bertahan dari generasi ke generasi di Kota Malang ternyata telah mengalami berbagai kali perubahan (modifikasi). Modifikasi Topeng Malangan di Sanggar Asmoro Bangun dilakukan melalui dua perubahan, yaitu perubahan gagasan dan perubahan elemen. Baik itu dalam segi pertunjukan maupun dalam pembuatan topeng.

Perubahan yang terjadi pada Topeng Malangan, sengaja dilakukan untuk kepentingan pelestarian dari Topeng Malangan itu sendiri sehingga beberapa pakem (aturan tradisi) ada yang beberapa sudah tidak lagi dilakukan karena sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.

Tidak hanya itu, pertunjukan Topeng Malangan juga mengubah beberapa pakem yang dirasa dapat menghambat pelestarian seni pertunjukan Topeng Malangan. Namun beberapa tradisi sakral yang ada di dalamnya tetap dilakukan, demi menghormati para leluhur terdahulunya.

Maka bisa dikatakan ritual dalam pembuatan Topeng Malangan tetap ada meskipun terdapat beberapa perubahan. Perubahan tersebut bukan berarti menghilangkan sebuah tradisi, tapi untuk pelestarian kesenian Topeng Malangan ini.

Terlepas dari hal mistik dan klenik, keunikan dari Topeng Malangan harus tetap dilestarikan. Hal tersebut dikarenakan tiap-tiap tokoh dari Topeng Malangan sendiri bisa memberikan pelajaran yang berharga bagi para penerusnya. Untuk itu kesenian asli Malang ini harus tetap diwariskan kepada para pemuda khususnya bagi Arek Malang sendiri.

Penulis: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *