Kisah Kelam Gerbong Maut yang Memakan Banyak Korban

Gerbong Maut Di Museum Brawijaya Malang (Gambar diambil dari blog Iqbalazhari.com)

DIORAMALANG.COM, 14 OKTOBER 2020 – Halo Ker, museum Brawijaya di Malang memang punya banyak sekali benda-benda peninggalan bersejarah seperti yang Dioramalang.com bahas beberapa waktu silam. Namun ternyata, selain terkenal karena mempunyai banyak benda peninggalan perjuangan, museum ini ternyata punya satu benda koleksi yang paling ikonis karena sejarah kelam yang dimilikinya. Benda koleksi ini bernama ‘Gerbong Maut’, sekilas gerbong kereta ini memang terlihat seperti gerbong tua pada umumnya. Namun ternyata, kisah kelam dibaliknya benar-benar mengerikan.

Dari tampilan luar, gerbong bersejarah ini memiliki warna hitam, abu-abu dan putih. Cat pada gerbong juga terawat dengan baik, karena terlihat masih bagus dan belum ada tanda-tanda berkarat. Secara keseluruhan, rangka yang terdapat pada gerbong ini terbuat dari besi. Bila dilihat sekilas gerbong ini tidak akan tampak seperti gerbong tua, karena kondisinya masih cukup bagus dan terawat. Gerbong ini sebenarnya bernama gerbong GR 10152, namun karena kisahnya di masa lalu gerbong ini kemudian dijuluki sebagai gerbong maut.

Menurut laporan dari Kompas.com, kisah gerbong maut berlatar pada waktu tahun 1947-an, dimana pada saat itu masih terjadi Agresi Militer Belanda I. Gerbong ini dulunya dipakai oleh para militer Belanda untuk membawa tawanan (para pejuang kemerdekaan yang tertangkap Belanda), para tahanan tersebut dibawa dari Penjara Bondowoso ke Penjara Bubutan pada tahun 1947.

Kala itu, Penjara Bondowoso berada di Kabupaten Bondowoso dan Penjara Bubutan berada di Surabaya. Karena jumlah pejuang Indonesia yang tertangkap kala itu cukup banyak, akhirnya pihak militer Belanda menggunakan 3 buah gerbong untuk membawa para tahanan. Gerbong tersebut masing-masing bernama GR 5769, GR 4416 dan GR 10152.

Menurut Dian Anggraeni Puspita Sari dalam penelitiannya dikatakan, kereta mulai berangkat pada 23 November 1947 sekitar jam lima pagi, keberangkatan dimulai dari Stasiun Bondowoso kemudian menuju ke Stasiun Wonokromo Surabaya. Gerbong pertama (GR 10152) menampung 38 orang, gerbong kedua (GR 4416) menampung 29 orang, dan gerbong ketiga (GR 5769) menampung 33 orang. keseluruhan gerbong terbuat dari baja yang rapat, tanpa ada ventilasi apapun.

Ketika pintu ditutup dan dikunci, alhasil tak ada udara yang masuk maupun keluar. Sehingga suasana dalam gerbong menjadi sangat panas dan juga pengap, perjalanan yang ditempuh para tahanan kala itu sekitar 15 jam. Selama perjalanan, para tahanan juga tidak diberi makan, minum dan udara sehingga bisa dibayangkan bagaimana tersiksanya para tahanan kala itu.

Penderitaan ini semakin bertambah ketika kereta berhenti di Stasiun Kalisat, karena panasnya terik matahari membuat kulit orang yang berada di dalam gerbong menjadi saling menempel dan terkelupas. Sepanjang perjalanan mereka tidak henti-hentinya menggedor-gedor gerbong sambil berteriak meminta air, makan dan udara. Namun pihak militer Belanda tetap tidak menghiraukan teriakan mereka.

Dari ketiga gerbong, gerbong maut yang berada di Museum Brawijaya merupakan gerbong yang paling banyak memakan korban jiwa. Hal ini dikarenakan, kedua gerbong lainnya ternyata masih memiliki sebuah lubang kecil, sehingga para tawanan masih dapat menghirup udara melalui lubang kecil tersebut.

Menurut laporan dari Tirto.id, total korban yang meninggal dalam kejadian tersebut mencapai 46 orang, sementara yang masih hidup ada 54 orang. Namun para tahanan yang masih hidup, 12 orang diantaranya sakit parah, 30 orang lemas tidak berdaya dan hanya 12 orang saja yang kondisinya terlihat baik-baik saja. Mereka yang masih hidup ini pun langsung dimasukan ke Penjara Bubutan. Selama didalam penjara, mereka juga tidak diperbolehkan mendekat satu sama lain. Para tahanan yang masih hidup dipenjara selama beberapa bulan saja, namun ada pula diantaranya yang baru dibebaskan pada tahun berikutnya.

Menurut Rima Evalia Yusmita dalam penelitiannya dikatakan, peristiwa gerbong maut ini ternyata berawal ketika pasukan Belanda menyerang Bondowoso dan berhasil mendudukinya. Kemudian, pasukan Belanda melakukan penangkapan besar-besaran terhadap TRI (Tentara Rakyat Indonesia), laskar dan gerakan bawah tanah. Pihak Belanda juga menangkap sembarangan orang, tanpa menghiraukan apakah yang bersangkutan berperan atau tidak dalam kegiatan perjuangan.

Akibat tindakan yang sewenang-wenang inilah, mengapa rumah tahanan (RUTAN) yang berada di setiap Kecamatan menjadi penuh. Sehingga terjadilah pemindahan tahanan dari Penjara Bondowoso ke Penjara Surabaya yang memakan banyak korban.

Berdasarkan informasi dari Detik.com, keberadaan gerbong maut yang asli saat ini hanya berada di Museum Brawijaya Kota Malang, sedangkan gerbong maut yang berada di Surabaya dan di Bondowoso hanyalah replika saja.

Menurut Suryo Atmojo salah satu pemandu di Museum Brawijaya mengatakan, keberadaan dua gerbong yang lain saat ini masih belum diketahui dimana lokasi pastinya. Bahkan muncul dugaan bahwa kedua gerbong tersebut sebenarnya sengaja dihilangkan jejaknya karena suatu alasan. “Jadi yang di sini bukti fisiknya, yang di Surabaya dan Bondowoso hanya replika atau monumennya”, ujar Surya kepada reporter Detik.com.

Untuk kamu yang ingin melihat gerbong ini secara langsung, lokasinya berada di Museum Brawijaya yang berlokasi di Jalan Ijen, No. 25 A, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Jangan lupa berkunjung ya Ker dan ketahui sejarahnya! (SYZ)

Penulis: Syaifudin Zuhri

Editor: Shofiyatul Izza W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *