Alun-alun Merdeka, Satu Dari Dua Alun-alun yang Ada di Kota Malang

Alun-alun Merdeka Malang (Gambar diambil dari Blog Airpaz.com)

DIORAMALANG.COM, 2 OKTOBER 2020 – Kota Malang merupakan kota wisata nomor satu di Jawa Timur yang selalu terlihat indah dan menawan. Dilihat dari sisi manapun, Kota Malang ini selalu punya sudut pandang menarik yang bisa diceritakan. Kisahnya tentu tidak ada habisnya dan yang pasti tak lekang oleh waktu.  Nggak salah kalau banyak yang menilai kota bunga ini sebagai kota yang historis.

Bicara tentang sejarah, Malang tentu punya tempat-tempat klasik yang sarat dengan memori masa lampau. Salah satunya adalah Alun-alun Merdeka. Secara harfiah, dalam KBBI “alun-alun” memiliki arti tanah yang luas di muka keraton atau di muka tempat kediaman resmi bupati, dan sebagainya. Jadi nggak heran kalau lokasinya tepat di sentra kota, tempat dimana pusat pemerintahan, ibadah, dan perekonomian berlangsung.

Alun-alun Merdeka Malang Era 1870-1895 (Gambar diambil dari web Collectie.wereldculturen.nl)

Alun-alun Merdeka adalah satu dari dua alun-alun yang ada di Kota Malang. Oleh sebab itu di Malang muncul istilah alun-alun kembar. Lokasi antar keduanya bahkan tak jauh, hanya berjarak kurang lebih 500 meter dengan aliran Sungai Brantas sebagai pemisahnya.

Meski ada dua dan disebut kembar, akan tetapi dua alun-alun ini punya bentuk dan kisah historis yang berbeda. Alun-alun Merdeka bentuknya kotak, sedangkan Alun-alun Tugu bentuknya bundar. Alun-alun Merdeka dibangun pada tahun 1882, yang mana 38 tahun lebih tua ketimbang Alun-alun Tugu.

Menilik informasi dari Pusakanesia, gagasan untuk membuat alun-alun kembar yang diterapkan Thomas Karsten (arsitek kolonial) bisa jadi terinspirasi dari dua taman yang ada di Amsterdam, Belanda. Ini kemudian coba ditiru, dan ternyata di Malang juga memungkinkan. Maka jadilah dua kawasan dengan dua alun-alun yang letaknya berdekatan.

Merujuk Jurnal Arsitekturkarya Dindar Rahajeng, Antariksa, dan Fadly Usman, dalam kurun waktu tahun 1767 hingga awal 1870-an, Malang masih menjadi sebuah kabupaten yang berpusat di Alun-alun Merdeka. Saat itu, Alun-alun Merdeka hanyalah sebuah lapangan rumput besar yang berada diantara 4 ruas jalan.

Lapangan rumput besar itu dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan aktifitas niaga dan juga tujuan rekreasi. Padahal pemerintah kolonial Belanda bermaksud menggunakannya sebagai wilayah kekuasaannya.

Mutiah dan Jenny Ernawati dalam jurnal penelitiannya menjelaskan, pemerintah Hindia Belanda mulai merasa tak senang akan hal itu, karena dianggap menghilangkan hegemoni kekuasaan Belanda. Pusat pemerintahan pun dipindah dan dibangun kembali di sisi utara yaitu di sekitar taman J.P. Coen yang kini dikenal sebagai kawasan Alun-alun Tugu.

Hingga pada tahun 1882, lapangan besar ini diubah menjadi Alun-alun Merdeka yang tujuannya dapat berfungsi sebagai ruang publik. Alun-alun Merdeka dibangun setelah adanya beberapa bangunan penting seperti kantor asisten residen (1824), kantor bupati atau pendopo (1839), dan Masjid Jami’ (1875).

Tampak anak-anak sedang bermain di area playground Alun-alun Merdeka (Fotografer: Putri Cahyaningtyas)

Meskipun telah diresmikan sebagai ruang publik. Alun-alun Merdeka lantas tak langsung menjadi area rekreasi warga yang bersahabat. Kondisi alun-alun sangat tidak mencerminkan sebagai taman kota yang layak guna. Tempatnya gersang, kusam, dan tidak memiliki fasilitas khusus.

Hingga akhirnya pada tahun 2015 lalu, pemerintah Kota Malang merevitalisasi ruang publik ini menjadi wisata alternatif. Lokasinya jadi jauh lebih hijau, sejuk, dan banyak didapati fasilitas menarik. Perubahan baik ini kemudian berakhir dengan kemenangan Kota Malang atas dua Piala Adipura di tahun 2015 dalam kategori Taman Terbaik Nasional dan Kota Layak Anak.

Kondisi alun-alun setelah dilakukan revitalisasi oleh pemerintah Kota Malang (Gambar diambil dari: Instagram.com/perjalananbagus)

Laporan dari Muhammad Aminudin kepada Detik.com, menjelaskan ada beberapa wahana yang disiapkan di alun-alun ini seperti playground, skatepark, air mancur menari, amphiteater, photobooth, papan catur raksasa, dan ruang bagi ibu menyusui.

Juga ada 61 kursi kayu, 11 kursi beton, 88 kursi besi dan kursi beton besar melengkung mengitari air mancur di tengah taman. Untuk menambah keasrian, 20 tumbuhan hias ditanam. Pohon beringin yang berusia ratusan tahun dibiarkan tegak berdiri mengelilingi bundaran alun-alun.

Berkat adanya revitalisasi, alun-alun jadi semakin semarak dan multi guna. Banyak diantara kegiatan-kegiatan religi atau bahkan sosial yang dilaksanakan di tempat ini. Tempatnya yang berdekatan dengan tempat peribadatan seperti Masjid Agung Jami’ dan Gereja Immanuel jadi simbol makna bahwa Kota Malang bersifat religius.

Mengingat sejarah dan upaya besar yang dikerahkan demi pembentukan Alun-alun Malang, maka ada baiknya buat kamu untuk datang ke alun-alun ini. Fasilitasnya yang terpenuhi dan letaknya yang strategis juga bisa jadi alasan kuat mengapa Alun-alun Merdeka ini harus masuk ke daftar kunjunganmu selanjutnya. (Rof)

Penulis: Rofidah Noor

Editor: Shofiyatul Izza W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *