Toko Oen Malang, Restoran Jadul yang Jadi Cagar Budaya

Tampak depan bangunan Toko Oen Malang (Gambar diambil dari web Cagarbudaya.kemendikbud.go.id)

DIORAMALANG.COM, 30 SEPTEMBER 2020 – Berkunjung ke Kota Malang belum lengkap rasanya kalau tidak menyempatkan datang ke Toko Oen. Toko yang menyediakan dessert ini menjadi salah satu tempat paling disuka para wisatawan karena nuansanya yang kuno dan orisinal. Meski umurnya sudah mencapai 86 tahun, akan tetapi Toko Oen masih berdiri dengan kokoh hingga saat ini. Penasaran seperti apa? Simak ulasannya berikut ini.

Toko Oen mulanya adalah restoran keluarga yang dikelola langsung oleh para pendirinya. Mereka adalah pengusaha Tionghoa berketurunan Belanda bernama Liem Gien Nio (istri) dan Oen Tjoen Hok (suami). Untuk penamaan toko, pendiri menambahkan nama depannya hingga menjadi “Oen’s Cookies Store” atau berarti Toko Kue Oen.

Toko Oen pertama kali dibangun pada tahun 1910 di Yogyakarta. Kemudian dari toko pertamanya ini, pasangan suami-istri tersebut mulai melebarkan sayapnya hingga ke kota-kota lain yaitu Kota Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1934, Kota Malang pada tahun 1936 dan Kota Semarang pada tahun 1936.

Menilik laporan dari Fery Arifian kepada Kumparan.com, Toko Oen Kota Malang merupakan bangunan yang sudah ada sejak tahun 1930, 15 tahun sebelum Indonesia merdeka. Lalu 5 tahun setelahnya bangunan ini dimanfaatkan menjadi toko yang menjajakan makanan penutup.

Atmosfer khas Belanda melekat erat di Toko Oen Malang (Gambar diambil dari web Myeatandtravelhistory.wordpress.com)

Toko Oen Malang, beralamat di Jalan Basuki Rachmat No. 5, tidak jauh dari Alun-alun Merdeka dan Gereja Kayutangan. Lokasinya di sentral Kota Malang yang mana nggak akan membuatmu kesulitan untuk menemukan toko ini.

Beberapa penjelasan dalam Tokooen.com, pada tahun 1990 terjadi penurunan ekonomi pada Toko Oen cabang Malang. Bangunan toko kemudian dibeli untuk direnovasi sebagai showroom mobil. Karena nilai historis bangunan di Malang, pemerintah daerah melarang bangunan toko direnovasi dengan cara apa pun.

Bangunan toko harus tetap utuh seperti biasanya, termasuk semua dekorasi di bagian depan yang sebenarnya adalah identitas perusahaan dari Toko “OEN”. Hingga kemudian pada 2019 lalu, Toko Oen didaftarkan ke Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya dan resmi menjadi bangunan Cagar Budaya pada tahun 8 Januari 2019 setelah lolos tahap verifikasi, tahap kajian dan penilaian tim ahli.

Begitu tiba di depan restoran, kamu akan melihat ornamen-ornamen khas Belanda yang melekat di tiap-tiap bagian depan bangunan. Terbukti dari pintu-pintu kayu yang dinamis dan kaca-kaca lebar khas bangunan Belanda yang memungkinkan banyak cahaya masuk.

Bukan hanya itu, bagian dalam restoran ini juga tak kalah otentik. Hal tersebut dijelaskan dalam Bisnis.com, di dalam toko terlihat spanduk putih berukuran besar bertuliskan ‘Welkom in Malang, Toko Oen Die Sinds 1930 Aan de Gasten Gezzellighied Geeft’. Tak lupa terlihat juga kursi-kursi bambu pendek mengitari meja dan memenuhi ruangan.

Beberapa kue kering yang disediakan Toko Oen Malang (Gambar diambil dari web Bisnis.com)

Di sebelah kanan, di depan pintu masuk, pengunjung akan disambut dengan etalase roti khas Belanda. Kemudian berjejer toples berisikan kue kering yang juga merupakan khas Belanda, misalnya saja speculaas, kaastengels, katetong dan lainnya.

Area pengunjung dibagi menjadi dua macam, yakni area dengan kursi rotan dan area kursi kayu. Bentuknya dibuat berpola ‘sirkulasi’ yang bisa memengaruhi sistem pelayanan dimana pelayanan pada Toko Oen tidak hanya menggunakan sistem table service saja namun juga menggunakan sistem self service. Sistem ini digunakan pada area bakery. Cyntia Aprilita dan Sriti Mayang Sari dalam Jurnalnya, menyimpulkan bahwa penataan pelayanan self service yang digunakan secara tidak langsung akan mendorong pengunjung untuk mengelilingi area tersebut. 

Beragam menu mulai dari appetizer, burger dan sandwich, steak, sup, salad, minuman seperti jus dan bir, makanan oriental hingga makanan tradisional Indonesia semua ditawarkan oleh Toko Oen.

Namun yang paling istimewa disini adalah Old Fashioned Ice Cream atau Es Krim Gaya Kuno dan aneka kue basah serta kering. Nggak heran karena Toko Oen awalnya memang didirikan untuk menjual produk-produk makanan penutup.

Menu Old Fashioned Ice Cream Toko Oen Malang (Gambar diambil dari web Wowkeren.com)

Menu es krim bertajuk “OEN” Special adalah yang paling banyak diburu para pengunjung. Komposisinya terdiri dari 3 rasa es krim yang berbeda, stroberi, vanila, coklat, yang dipadu dengan whipped cream, kismis serta ceri di atasnya. Rasanya boleh dibilang berbeda dengan es krim pada umumnya. Karena tidak begitu manis dan nggak bikin cepet enek. Lalu teksturnya yang sedikit lebih kasar tetapi tetap lembut ketika disantap.

Untuk bisa mencicipi menu “OEN” Spesial ini, kamu harus merogoh kocek hingga Rp 60 ribu. Cukup mahal memang, tapi karena dinikmatinya bersamaan dengan nuansa restoran yang kuno dan otentik, dijamin nggak bakalan bikin kamu menyesal untuk menikmati es krim ini. Nah gimana nih? Penasaran nggak sama menu dan suasana yang ditawarkan oleh Toko Oen? Buat kamu yang sudah pernah datang ke restoran ini, beri ulasannya di kolom komentar dibawah ini ya Ker! (Rof)

Penulis: Rofidah Noor

Editor: Shofiyatul Izza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *