Candi Hindu Mendominasi Peninggalan Sejarah di Malang

Candi Hindu mendominasi wilayah Malang. (Gambar diambil dari blog Praksissejarah)

DIORAMALANG.COM, 13 SEPTEMBER 2020 – Wilayah Malang bukan hanya terkenal dengan beragam wisata keindahan pantainya saja, akan tetapi juga terkenal dengan berbagai kehebatan situs peninggalan sejarah kerajaan berupa candi. Candi yang ada merupakan candi beraliran Hindu dan Buddha, dan di Malang sendiri didominasi oleh candi Hindu ketimbang candi Buddha.

Ada banyak faktor yang membedakan antara candi beraliran Buddha dan Hindu, namun poin penting yang biasanya lebih dikenal oleh masyarakat diantaranya adalah fungsi dan struktur bangunannya.

Dilansir dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, candi Buddha diketahui memiliki fungsi candi bagi umat Buddha hanya sebagai tempat pemujaan terhadap Buddha. Struktur bangunannya cenderung berbentuk tambun dan gemuk bila dibandingkan dengan candi Hindu. Sementara pintu utamanya berada di sebelah timur.

Sedangkan candi Hindu mulanya dipercaya digunakan sebagai makam, padahal candi peninggalan Hindu dibangun untuk penghormatan terhadap pengabdian darma seorang raja yang telah wafat. Kemudian struktur bangunannya lebih ramping dan pintu utamanya berada di sebelah barat. Berikut ini adalah beberapa potret candi Hindu yang mendominasi peninggalan sejarah di Malang.

Candi Kidal tempat Raja Anusapati, raja kedua Kerajaan Singhasari. Candi ini dibangun pada pada 1248 M. (Gambar diambil dari web Faktualnews.co)

Relief Garudeya yang terdapat di Candi Kidal ini menggambarkan struktural ikonik Garuda dan jadi inspirasi Bung Karno soal Pancasila. (Gambar diambil dari web Superradio.id)

Candi Singosari tempat pendharmaan raja Kertanegara.dengan corak Hindu. Candi ini dibangun pada awal abad 19 dan dipugar oleh pemerintah Belanda pada tahun 1930. (Gambar diambil dari web Cagarbudaya.kemendikbud.go.id)

Relung atau rongga pada dinding bangunan yang menjorok ke dalam Candi Singosari. (Gambar diambil dari web Cagarbudaya.kemendikbud.go.id)

Candi Badut merupakan candi peninggalan Kerajaan Kanjuruhan. Candi ini diduga dibangun atas perintah Raja Gajayana dan Kerajaan Kanjuruhan yang memiliki usia diperkirakan lebih dari 1400 tahun. (Gambar diambil dari web Explorewisata.com)

Candi Badut pertama kali ditemukan oleh Maureen Brecher, seorang pegawai VOC yang bertugas di Malang pada tahun 1921. Uniknya kompleks candi ini berada disekitar area permukiman warga dengan luas 2800 m2. (Gambar diambil dari web Beritamalang.co.id)

Candi Jawar Ombo merupakan candi yang lokasinya berada di sebuah bukit di Desa Mulyoasri, Kecamatan Ampelgading, dengan ketinggian 1400meter diatas permukaan laut. Di sekitar candi banyak dihuni oleh keluarga pemeluk agama Hindu. (Gambar diambil dari web Wisatamurahmalang.com)

Candi Jawar Ombo terkenal dengan kecantikannya yang membuat banyak wisatawan berdatangan. Lokasinya yang asri dan cantik jadi incaran untuk berwisata sekaligus swafoto. (Gambar diambil dari Instagram/Tiikaatikoo)

Candi Karang Besuki atau Candi Gasek adalah candi Hindu peninggalan Kerajaan Kanjuruhan yang berpusat di sekitar Dinoyo, Kota Malang dan lokasinya berada tak jauh dari Candi Badut. (Gambar diambil dari blog Ripribro)

Candi Karang Besuki ini terletak di dalam pemakaman umum. Strukturnya yang tidak sempurna disebabkan oleh banyaknya batu candi yang hilang dan tidak lengkap. (Gambar diambil dari blog Ripribro)

Candi Jago dibangun pada masa Kerajaan Singasari pada abad 13 dan didirikan atas perintah Raja Kertanagara untuk menghormati Sri Jaya Wisnuwardhana, Raja Singasari ke IV (1248-1268). (Gambar diambil dari web Singosarikingdom.weebly.com)

Candi Jago merupakan candi bercorak Hindu dan Buddha karena Raja Wisnuwardhana memerintah Singasari untuk menganut agama Syiwa Buddha, yaitu suatu aliran keagamaan yang merupakan perpaduan antara ajaran Hindu dan Buddha. (Gambar diambil dari web Sejarahbudayanusantara.weebly.com)

Penulis: Rofidah Noor

Editor: Shofiyatul Izza W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.