Seni Wayang yang Kini Tak Lagi Dilirik Remaja

Pertunjukan Wayang Kulit Dipimpin dengan Dalang Cilik (Gambar diambil dari web Ayosemarang.com)

DIORAMALANG.COM, 9 SEPTEMBER 2020 – Pertunjukan seni wayang di Jawa memang sudah melegenda sejak zaman dahulu, hingga akhirnya mampu memikat siapapun yang sedang menyaksikannya. Bahkan pada zamannya wayang pernah menjadi satu-satunya hiburan masyarakat, terutama pada masyarakat pedesaan.

Hingga saat ini pun sebenarnya seni pertunjukan wayang yang ada di Jawa khususnya di Jawa Timur masih digelar. Namun sayangnya banyak masyarakat yang melewatkan pagelaran seni wayang tersebut. Alasannya tak lain dan tak bukan adalah, mereka bosan dan sudah tidak menarik seperti hiburan-hiburan lainnya yang sedang naik daun saat ini.

Hal tersebut tentu saja perlahan akan menghilangkan seni pertunjukan wayang di daerah mereka. Dan sebenarnya hal tersebut sudah terjadi di lingkungan sekitar kita. Mulanya setiap warga sekitar selalu menanti-nanti pagelaran seni wayang, namun kali ini kehadirannya sudah tidak diharapkan lagi.

Kejadian seperti fenomena di atas seringkali terjadi di daerah perkotaan, masyarakat perkotaan sudah mulai acuh dan bosan dengan pertunjukan seni wayang ini. Banyaknya hiburan-hiburan lain yang berdatangan pada era modern membuat mereka akhirnya berubah haluan.

Namun kali ini kita akan melihat bagaimana minat pemuda atau remaja Jawa terhadap pagelaran seni wayang ini. Mungkin saat ini remaja yang tinggal di lingkungan pedesaan, mereka masih sering menjumpai pagelaran seni wayang. Namun sangat disayangkan lagi, meskipun tinggal di daerah pedesaan saat ini tak banyak remaja atau pemuda yang juga ikut duduk bersama orang tua untuk menyaksikan pagelaran seni wayang.

Seperti yang dijelaskan oleh Yolanda Priska Purnama dan Aprilia Rachmadian, Universitas Merdeka Malang, dalam jurnal artikel yang ditulisnya, bahwa pemuda saat ini lebih condong kepada budaya modern karena menganggap lebih serasi pada jiwa mereka dan merupakan tren pada saat ini. Anggapan keserasian budaya modern pada jiwa pemuda sekarang menimbulkan penerimaan secara langsung kebudayaan dari luar, tanpa adanya penyaringan dari Lokalitas Kebudayaan. Perkembangan budaya modern saat ini tidak dapat ditolak, melainkan disaring dengan budaya lokalitas yang kental pada setiap daerah.

Menyimak penjelasan di atas tentu saja membuat kita berpikir, bahwa pengaruh budaya modern saat ini yang sedang terjadi menjadi salah satu sebab hilangnya seni pertunjukan wayang di kalangan remaja atau pemuda.

Sebagian dari mereka juga menganggap bahwa seni pertunjukan wayang ini tidak serasi dengan dirinya. Ditambah lagi dengan penggunaan bahasa Jawa yang mereka anggap susah, atau bahkan dengan alur cerita pada seni wayang.

Namun sekali lagi, pertunjukan seni wayang ini relatif dekat remaja atau pemuda desa. Sebagian dari mereka mungkin tidak asing dengan nama-nama dalangnya, hingga alur cerita pada wayang tersebut. Hal itu dapat terjadi, karena sejak kecil mereka sudah dikenalkan oleh orang tua mereka mengenai pertunjukkan seni wayang.

Berbeda dengan pemuda atau remaja kota yang sejak dini sudah dekat dengan teknologi gadget dan mengenal media massa. Tentu sebenarnya hal ini juga menjadi penyebab hilangnya minat remaja pada wayang. Tidak ada salahnya memang untuk mengenalkan kemajuan teknologi pada remaja atau pemuda, namun di samping itu alangkah baiknya sebagai orangtua juga seimbang dalam mengenalkan budaya lokal pada anak-anaknya.

Peran orangtua dalam menumbuhkan kembali minat remaja pada pertunjukan seni wayang ini sebenarnya juga cukup penting. Meskipun pertunjukan seni wayang saat ini jarang sekali digelar di kota-kota, namun ada media massa sebagai alat untuk mengenalkan kembali wayang.

Hal tersebut akan membuat remaja tidak buta dengan budaya lokal kita yaitu wayang. Jika nantinya suatu saat mereka menjumpai pertunjukan seni wayang pada daerah tertentu, mereka akan mengingat kembali tentang apa yang sudah pelajari atau ketahui sebelumnya di media massa.

Kemajuan teknologi saat ini memang tidak dapat dihindarkan, terutama pada kalangan remaja. Namun tidak selamanya kemajuan teknologi saat ini selalu mengarah kepada hal yang negatif saja. Seperti memperlihatkan pertunjukan seni wayang pada kanal youtube untuk remaja atau pemuda, sebenarnya bisa saja diaplikasikan.

Selain peran orangtua, peran Pemerintah Kota maupun Daerah juga sangat diperlukan sebagai wadah untuk remaja atau pemuda daerah dilatih untuk turut serta dalam rangkaian pertunjukan seni wayang. Atau dapat dikatakan sebagai jembatan para remaja untuk mengeksplorasi dirinya pada kesenian wayang.

Bahkan dengan menambah kebijakan untuk memasukan seni wayang dalam dunia pendidikan formal di sekolah sebenarnya juga menjadi salah satu cara yang cukup efektif. Maka dengan begitu remaja atau pemuda Jawa akan semakin paham dan mengerti mengenai wayang yang selama ini hanya digemari oleh orang-orang tua saja.

Menurut saya remaja atau pemuda saat ini harus mengerti dan paham wayang, mengapa demikian? Selain digunakan sebagai hiburan semata, dalam cerita wayang ini terdapat banyak sekali makna dan budi pekerti yang diajarkan untuk kita.

Seperti yang dijelaskan oleh Joko Sutarso, Universitas Muhammadiyah Surakarta, dalam jurnal penelitian humaniora dari hasil penelitian, berdasarkan pengamatan yang lama terhadap dunia pewayangan dewasa ini, dapat disarankan salah satunya yaitu nilai-nilai budi pekerti baik dalam cerita dan pertunjukan wayang tetap dilestarikan terutama dalam fungsi tontonan (pertunjukan) sekaligus tuntunan (pendidikan).

Pengenalan pertunjukan seni wayang pada remaja atau pemuda saat ini, masih dapat dilakukan atau belum ada kata terlambat. Karena bisa jadi dalam diri setiap individu remaja atau pemuda terdapat jiwa-jiwa seni yang mampu berkembang di dalamnya. Maka tentu hal itu harus kita manfaatkan agar remaja tersebut mampu meneruskan seni pertunjukan wayang, sehingga dapat mengantisipasi agar tidak semakin punah.

Mungkin sebagian dari kita juga pernah mendengar dengan adanya dalang cilik pada seni pertunjukan wayang. Fenomena inilah yang saya apresiasi, karena di era seperti ini menumbuhkan jiwa seni pada anak-anak menjadi salah satu tantangan bagi orang tua masa kini.

Namun untuk remaja dan pemuda Jawa, jangan pernah malu pada kesenian lokal kita. Atau jangan menganggap bahwa seni pertunjukan wayang ini ‘ketinggalan zaman’ justru dengan berkembangnya zaman ini, kita sebagai pemuda juga harus mampu mengembangkan kesenian bukan dengan meninggalkan begitu saja. (Siw)

Penulis: Shofiyatul Izza W

Editor: Rofidah Noor

4 thoughts on “Seni Wayang yang Kini Tak Lagi Dilirik Remaja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *