Kota Malang dan Kaitannya dengan Pendidikan, Pariwisata, Serta Ruang Publik

Kota Malang dinobatkan menjadi kota berpenduduk terbesar kedua setelah Kota Surabaya dengan kepadatan penduduk mencapai 7.735 km2. (Gambar diambil dari Javatravel.net)

DIORAMALANG.COM, 9 SEPTEMBER 2020 – Sebagai kota yang jadi tujuan pendidikan dan memiliki ratusan destinasi wisata, Kota Malang menjadi daerah yang setiap tahunnya harus mengalami pertumbuhan penduduk dan padat. Dari data yang disediakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang tahun 2018, terlihat bahwa angka kepadatan penduduk naik.

Seperti yang terjadi pada Kecamatan Lowokwaru, daerah ini terus mengalami kenaikan angka setiap tahunnya karena banyak perguruan tinggi yang berlokasi di Lowokwaru. Perguruan tinggi yang ada di tempat ini antara lain adalah Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Islam Negeri Malang.

Selain itu ada pula Universitas Muhammadiyah Malang, Politeknik Negeri Malang, Universitas Islam Malang, Universitas Gajayana Malang, STIE Malangkucecwara (ABM), Universitas Tribhuwana Tungga Dewi, Universitas Widyagama, dan Stikes Widyagama Husada.

Di samping Lowokwaru, kecamatan lain yang angka kepadatan penduduknya naik diantaranya adalah Kedungkandang, Sukun, Blimbing. Sedangkan untuk kecamatan Klojen mengalami penurunan.

Karena laju pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi ini kemudian muncul berbagai faktor yang membuat Kota Malang menjadi makin padat. Saking padatnya, perhitungan penduduk tak dapat dihitung secara eksponensial.

Maksudnya adalah kota yang biasanya tak memiliki banyak penduduk rantau seperti Kota Pasuruan, perhitungannya dapat menggunakan rumus eksponensial, karena pertumbuhannya cenderung tetap dan tidak drastis. Berbeda dengan Kota Malang yang angkanya kian membesar sepanjang pergantian tahun.

Adapun dampak yang terjadi akibat laju pertumbuhan penduduk Kota Malang diantaranya adalah banyaknya pembangunan gedung toko, mal, pusat pendidikan, destinasi wisata, rumah, kost mahasiswa, rumah makan, kafe, pusat pengadaan jasa, dan lain-lain.

Meski begitu, Malang tetap menjadi primadona bagi para pelancong untuk kepentingan destinasi wisata, karena Malang terkenal dengan potensi pariwisatanya yang beragam dan memiliki fungsi yang dapat memberikan peluang dalam menarik wisatawan. Potensi tersebut berupa kegiatan wisata belanja dan wisata warisan arsitektur seperti museum, kuliner, wisata religi, wisata heritage, hingga kampung tematik.

Melalui Jurnal Tata Kota dan Daerah Universitas Brawijaya tahun 2013 yang berjudul “Kajian Potensi Pariwisata Perkotaan di Kota Malang Berdasarkan SkateHolder”, dijelaskan bahwa untuk mencapai pariwisata yang efektif dan efisien, maka harus ada strategi potensi pariwisata seperti sosialisasi kebijakan setiap daya tarik wisata atau pariwisata melalui penerapan program kebijakan.

Sosialisasi ini bermanfaat agar dapat memberi informasi masyarakat tentang kebijakan-kebijakan yang berlaku pada tempat-tempat wisata yang ada di Malang.

Kemudian diperlukan pula pembagian kerja yang jelas antara pemerintah dan swasta dalam mengelola fasilitas umum wisata di Kota Malang. Hal ini jelas perlu dilakukan agar tempat wisata terjaga dengan baik.

Selain itu diperlukan juga hubungan yang baik antara antara daya tarik wisata dengan lokasi wisata di Kota Malang. Hal ini dapat dilakukan melalui pengadaan kegiatan yang memungkinkan para wisatawan untuk datang dan melihat bahwa dua faktor tersebut memiliki kesinambungan dan saling melengkapi.

Lalu perlu juga dikembangkannya atraksi wisata di Kota Malang seperti paket perjalanan wisata ataupun festival. Melalui kegiatan tersebut harapannya dapat menarik minat para pelancong untuk dapat menikmati sensasi lain dalam berwisata. Perbaikan dan perawatan fasilitas wisata pada setiap daya tarik wisata Kota Malang juga harus dilakukan, agar tercipta lokasi wisata yang bersih dan juga sedap di mata.

Tak hanya itu, pengalokasian moda angkutan umum untuk mendukung angkutan wisata juga berpotensi dapat meningkatkan jumlah wisatawan, bila dilakukan dapat sekaligus meningkatkan kualitas pariwisata Kota Malang.

Terakhir perlu diadakan kegiatan promosi melalui berbagai media seperti pada laman website kota maupun media sosial seperti Instagram, Twitter, dan juga Youtube.

Jadi bisa ditarik benang merah bahwa pendidikan dan destinasi wisata menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Kota Malang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Kota Malang dinobatkan sebagai kota berpenduduk terbesar kedua setelah Kota Surabaya dengan kepadatan penduduk mencapai 7.735 km2.

Oleh karenanya tak heran bila Kota Malang mulanya memiliki keterbatasan ruang publik pada pemukiman warga, karena kawasannya terbatas dan tak sebanding dengan pertumbuhan populasi.

Padahal fungsi ruang publik sendiri sangat penting sebagai wadah untuk masyarakat umum dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya serta aksesibel bagi berbagai kondisi fisik manusia dan berfungsi sebagai ruang interaksi sosial masyarakat untuk mengembangkan diri, membuka potensi daerah sebagai kawasan pariwisata, pengembangan area sebagai pusat pendidikan sosial budaya, dan lain-lain.

Untuk saat ini, ruang publik di Kota Malang sudah banyak ditemui. Ruang publik ini biasanya berbentuk ruang alami atau semi alami seperti kawasan sempadan sungai, pantai, kanal, dan lain sebagainya. Ada pula ruang umum yang berbentuk jalan umum, lapangan, jalur pejalan kaki, promenade, dan lain sebagainya.

Kemudian ada ruang publik privat seperti taman dan trotoar pada halaman pusat perbelanjaan, halaman rumah ibadah, dan lain sebagainya. Ruang privat visibel yang berupa halaman depan rumah dan lapangan yang dilengkapi pagar. Terakhir adalah ruang pilihan yang berupa skatepark, taman bermain, dan lapangan olahraga.

Mengutip dari hasil riset yang dilakukan Wulan Dwi Purnamasari, Oktavia Indah Rudinanda, dan I Nyoman Suluh Wijaya, menjelaskan bahwa pada kampung pusat kota tidak semua ruang publik selalu digunakan karena pengguna ruang memiliki kesibukan lain seperti bekerja sehingga baru menggunakan ruang pada waktu-waktu tertentu dan dimanfaatkan untuk hal lain. Persepsi pengguna ruang publik di kampung pusat kota juga rata-rata sudah baik. Namun belum bisa mengakomodir beragam aktivitas dan interaksi sosial.

Sedang pada pengguna ruang publik di pinggiran kota, ruang publik hanya digunakan pada beberapa waktu saja karena tidak menarik dan kurangnya kesadaran atas fungsi ruang publik. Kualitas ruang di kampung pinggiran kota juga sudah baik, akan tetapi hanya perlu ditingkatkan pada penyediaan fasilitas agar ruang publik menjadi lebih menarik.

Bukan hanya ruang publik saja, RTH (Ruang Terbuka Hijau) juga perlu dijamakkan di Kota Malang sebagaimana yang telah diamanatkan dalam peraturan bahwa setiap Kabupaten-Kota hendaknya memiliki 20 persen kawasan yang masuk ke dalam kategori RTH.

Adapun yang kini sudah tersedia di Malang, baru sekitar lima persennya. Ruang publik dan ruang terbuka hijau diharapkan dapat menjadi tanggung jawab bersama bagi masyarakat dan juga pemerintah agar tercipta lingkungan yang menyenangkan. (Rof)

Penulis: Rofidah Noor

Editor: Shofiyatul Izza W

1 thought on “Kota Malang dan Kaitannya dengan Pendidikan, Pariwisata, Serta Ruang Publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *