Permainan Tradisional Mulai Terlupakan Akibat Peran Orang Tua yang Kurang

Illustration Of People With A Joystick (Gambar diambil dari web Freepik.com)

DIORAMALANG.COM, 6 SEPTEMBER 2020 – Sepertinya sudah bukan rahasia lagi, bila permainan modern kini lebih diminati. Banyak orang yang sudah tidak peduli akan eksistensi permainan tradisional yang dulunya sangat menyenangkan untuk dimainkan. Bahkan mirisnya, permainan tradisional yang dulu di agungkan, saat ini sudah mulai dianggap kampungan.

Peran orang tua dalam mengenalkan permainan tradisional juga masih sangat kurang. Hal tersebut dikarenakan para orang tua zaman sekarang, kini sudah enggan untuk memperkenalkan kembali ragam permainan tradisional yang pernah mereka mainkan.

Saat ini banyak orang tua yang sudah mulai melupakan, bahwa permainan digital khususnya game online sangat berdampak buruk pada anak-anak. Padahal, di berbagai media baik cetak maupun elektronik sudah banyak di informasikan. Anak yang bermain game online tanpa adanya kontrol khusus dari orang tua, akan cenderung mengalami kecanduan.

Menurut Drajat Edy Kurniawan dalam Jurnal Konseling dikatakan, dampak akibat tingginya intensitas bermain game online diantaranya yaitu anak menjadi tidak memiliki skala prioritas dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sehingga dapat mendorong kepribadian anak menjadi seorang yang asosial (penyendiri).

Selain itu, pengaruh game online juga dapat menyebabkan seorang anak menjadi malas dalam belajar. Karena, sebagian besar waktu luangnya akan digunakan untuk bermain game online saja. Inilah yang terkadang menjadi alasan mengapa banyak siswa SD, SMP, dan SMA menjadi sering bolos sekolah.

Seperti yang diberitakan oleh Kompas.com dimana hanya gara-gara game online, seorang siswa SD yang berinisial AN sengaja membolos hingga 4 bulan lamanya hanya agar dapat bermain game online dengan waktu yang lebih lama. Selain itu, kecanduan game online bukan hanya berdampak pada perilakunya saja, akan tetapi juga akan berdampak pada kesehatan fisiknya.

Bila anak sudah terlalu banyak bermain game online, anak tersebut dapat beresiko mengalami gangguan kesehatan. Diantaranya seperti gangguan pendengaran, penglihatan, insomnia, bahkan gangguan pada perkembangan otak.

Inilah mengapa peran orang tua sangat diperlukan untuk membatasi waktu bermain game pada anak mereka, karena kesalahan fatal yang sering dilakukan orang tua zaman sekarang. Menurut saya karena orang tua terlalu memberi kebebasan dan tidak membatasi waktu dalam bermain game online.

Selain itu, bermain game online tanpa pengawasan orang tua juga dapat berdampak negatif terhadap anak, karena tidak semua genre game aman untuk dimainkan oleh anak-anak.

Apalagi bila dalam game online tersebut banyak mengandung adegan kekerasan, tentunya hal tersebut akan sangat tidak baik baik untuk dimainkan anak usia belia. Akibatnya dapat menjadi contoh yang buruk bagi perkembangan anak tersebut, terutama pada perilakunya sehari-hari.

Sayang permainan tradisional saat ini sudah terkikis eksistensinya, padahal dalam permainan tradisional terdapat beragam manfaat yang baik dalam tumbuh kembang anak. Dalam permainan tradisional, fisik dan emosi anak dapat terlibat secara langsung.

Bahkan, dalam permainan tradisional juga dapat menstimulusi anak dalam mengembangkan kerjasama, membantu anak dalam beradaptasi, mengembangkan sikap empati terhadap teman, saling menghargai orang lain dan lain sebagainya.

Peran orang tua dalam memperkenalkan permainan tradisional, saat ini benar-benar sangat kurang. Padahal, menurut saya orang tua seharusnya menjadi pihak yang memiliki peran terpenting terkait dengan masalah kecanduan game online pada anak. Karena dalam masalah ini, orang tua adalah pihak yang paling dekat dan yang paling bertanggung jawab terhadap tumbuh kembangnya kelak.

Menurut Lilis Dora dalam penelitiannya dikatakan, pengetahuan dan kesadaran orang tua Indonesia terhadap permainan tradisional ternyata masih sangat rendah. Padahal permainan tradisional dapat dijadikan sebagai media untuk membantu anak dalam menanamkan nilai etika dasar yang berbudi luhur.

Penerapan etika dasar seharusnya tidak hanya diberikan secara verbal tetapi juga dapat dilakukan secara visual. Seperti pembelajaran melalui media permainan tradisional contohnya, karena dalam permainan tradisional selain dapat meningkatkan kesegaran jasmani, bermain permainan tradisional juga dapat membantu meningkatkan aspek intelektual anak.

Permainan tradisional sebenarnya sudah ada dari generasi ke generasi, dalam permainan tradisional banyak mengandung nilai-nilai luhur. Bahkan tidak hanya itu, dalam permainan tradisional juga mengajarkan kita mengenai bagaimana bersosialisasi dengan baik ke sesama secara langsung tanpa alat perantara sedikitpun, itulah yang membuat tali persaudaraan antar teman bermain atau sebaya menjadi sangat erat pada zaman dulu. Bahkan terkadang banyak sekali muncul cerita-cerita lucu dan menarik di dalam permainan tradisional.

Selain itu, permainan tradisional juga dapat dijadikan sebagai sarana olahraga, olah rasa dan olah pikir diwaktu yang bersamaan. Inilah yang menjadikan mengapa orang zaman dulu terkadang jarang sekali sakit-sakitan, karena setiap mereka pergi bermain, tubuh mereka akan selalu bergerak dengan aktif sehingga sering berkeringat layaknya orang berolahraga.

Di lain sisi, dalam permainan tradisional juga dapat melatih kemampuan sosial para pemainnya. Inilah yang membedakan permainan tradisional dengan permainan modern. Pada umumnya, mainan tradisional adalah permainan yang membutuhkan lebih dari satu pemain.

Hal ini sangat berbeda dengan pola permainan modern. Dimana kemampuan sosial anak tidak terlalu dipentingkan dalam permainan modern ini, malah cenderung diabaikan karena pada umumnya mainan modern berbentuk permainan individual di mana anak dapat bermain sendiri tanpa kehadiran teman temannya.

Meskipun terdapat permainan yang dapat dimainkan oleh dua anak atau lebih, namun kemampuan interaksi anak dengan temannya tidak akan terlalu terlihat. Sang anak hanya akan berfokus pada karakter yang dia mainkan saja, biasanya dia tidak akan peduli pada karakter lain yang ada di dalam game tersebut.

Maka dari itu, interaksi satu sama lain menjadi sangat kurang. Demi melestarikan permainan tradisional yang ada di Indonesia, saya rasa peran dari orang tua saja tidak akan cukup untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Menurut saya, pemerintah seharusnya juga ikut andil dalam membangkitkan kembali permainan tradisional yang ada Indonesia, karena permainan tradisional merupakan salah satu dari kekayaan bangsa Indonesia. (Syz)

Penulis: Syaifudin Zuhri

Editor: Shofiyatul Izza W

2 thoughts on “Permainan Tradisional Mulai Terlupakan Akibat Peran Orang Tua yang Kurang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *