Paguyuban Salam Kreatif Malang, Wadah Orang-Orang Terampil

Pelukisan Karakter Wayang Pada Media Kaca (Gambar milik Alvien Wardhana)

DIORAMALANG.COM, 2 SEPTEMBER 2020 – Anggota Paguyuban Salam Kreatif Malang pada hari ini Rabu (2/9) dilatih kembali untuk menggambar dan melukis melalui media yang cukup unik yaitu kaca, atau biasa disebut dengan glass painting. Pelatihan yang digelar di Dewan Kesenian Malang (DKM) ini tentu saja juga mengundang antusiasme para anggotanya untuk berkarya.

Pelatihan glass painting yang digelar oleh Paguyuban Salam Kreatif Malang ini selain untuk melatih anggota komunitas berkarya, memiliki tujuan agar hasil karya yang mereka hasilkan memiliki nilai jual. Sehingga nantinya paguyuban ini dapat berkembang menjadi UMKM.

Suasana Saat Anggota Peserta Melakukan Pelukisan Pada Media Kaca (Gambar milik Tatik Simanjuntak

Dengan berkembangnya komunitas ini menjadi UMKM, tentu saja nantinya akan membantu ekonomi kreatif para anggotanya. Bukan hanya sekedar komunitas yang biasa-biasa saja, namun paguyuban ini juga diharapkan bermanfaat bagi orang lain dan juga anggotanya.

“Adanya komunitas ini saya berharap agar tidak hanya menjadi tempat kumpul-kumpul akan tetapi juga bisa menjadi UMKM. Untuk gambar sendiri hari ini menggambar wayang sebagai bentuk representasi kehidupan pertama”, ujar Tatik Simanjuntak, Pembina Paguyuban Salam Kreatif Malang.

Pelatihan yang mayoritas dihadiri oleh ibu-ibu ini dimulai pukul 09.00 WIB hingga mereka menyelasaikan hasil karyanya. Hasil glass painting dari tangan terampil mereka ini nantinya akan dibawa pulang, dan dijadikan sebagai hiasan rumah sebelum mereka benar-benar terampil untuk menghasilkan karya yang bisa dijual.

Seperti yang diungkap salah satu peserta glass painting, Lilis Parianom. “Hasil karya ini ya saya bawa pulang, di rumah nanti di pigora terus jadi hiasan di rumah”, ungkapnya.

Hasil Karya Glass Painting dengan Tokoh Pewayangan (Gambar milik Alvien Wardhana)

Pelatihan yang digelar ini tentu saja juga sebagai sarana belajar bagi para anggota komunitas untuk menghasilkan karya yang bernilai. Penggunaan wayang sebagai karakter yang dilukis, juga tidak terlepas dari kisah tokoh wayang tersebut. Maka dari itu, pelukisan wayang tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan. (Siw)

Penulis: Shofiyatul Izza W

Editor: Rofidah Noor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *