Toleransi Sosial Suku Tengger yang Tak Pernah Hilang

Suku Tengger dengan Toleransi Sosial yang Dijunjung Tinggi (Gambar diambil dari web Tribunnews.com)

DIORAMALANG.COM, 1 SEPTEMBER 2020 – Miris rasanya melihat konflik yang terjadi di Indonesia saat ini, disebabkan karena adanya perbedaan budaya, agama, suku, dan ras. Bukankah di zaman seperti ini kita lebih baik untuk berjalan beriringan dengan baik, agar terwujud impian yang diinginkan oleh pahlawan-pahlawan kita? Menginginkan untuk Indonesia tetap utuh tanpa ada perpecahan.

Saat ini banyak sekali terjadi konflik atau bahkan perang saudara yang menimpa di negara kita Indonesia. Berlandaskan perbedaan suku, ras, dan bahkan agama yang menjadi pemicunya. Mendengar hal tersebut tentu membuat saya berfikir, bagaimana yang terjadi di Indonesia setelah 10 atau 20 tahun ke depan.

Apakah Indonesia akan tetap utuh dengan kekayaan budaya, suku, bahasa, agama, dan ras yang dimiliki? Atau bahkan banyaknya puluhan pulau di Indonesia akan merdeka sendiri? Sungguh saya sangat berharap agar hal tersebut tidak terjadi pada Indonesia kelak.

Namun kali ini saya kagum dengan salah satu suku yang berada di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, suku ini dikenal dengan upacara adatnya yaitu Unan-Unan, Kasada, dan sebagainya. Masyarakat mengenalnya dengan suku Tengger.

Suku Tengger yang mendiami desa Ngadas, Kabupaten Malang ini memiliki keragaman agama. Meskipun mereka berada dalam suku dan adat tradisional yang sama namun terdapat tiga agama yaitu Islam, Hindu, dan Buddha.

Menjunjung tinggi adat istiadat yang ada pada suku Tengger dan mengesampingkan perbedaan agama inilah yang membuat saya kagum. Jarang sekali terdengar berita mengenai peperangan konflik agama pada suku ini.

Hingga sering kita jumpai ketika berkunjung ke Gunung Bromo, orang-orang Tengger selalu menyambut ramah pada setiap pengunjung yang datang. Hal itu lah yang tentu saja menjadi kebiasaan orang-orang Tengger dalam kehidupannya sehari-hari.

Namun sebelumnya kita beralih untuk mengingat kembali tentang konflik yang terjadi di Sampang Madura, berada dalam identitas suku yang sama yaitu Madura. Namun di dalamnya terdapat dua kelompok agama yaitu Sunni dan Syiah, kelompok agama Syiah menyerang Sunni yang kemudian berujung duka. Puluhan orang terluka dan dua orang tewas pada konflik tersebut.

Selain itu adapula konflik yang juga terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua yang membakar masjid pada saat melaksanakan shalat Idul Fitri. Aksi tersebut dilakukan oleh pemuda dari salah satu gereja, mereka menginginkan untuk gema takbir yang berkumandang di masjid perkampungan Karubaga tidak menggunakan pengeras suara. Pembakaran masjid itu juga dilakukan sebagai bentuk protes pemuda gereja.

Agama, suku, dan ras memang digunakan sebagai identitas seseorang. Meskipun hidup dengan satu suku yang sama, namun setiap orang berhak untuk memilih pedoman atau landasan dalam beragama. Bukankah seharusnya kita menghargai pilihan beragama setiap saudara kita? Tentu iya.

Kembali lagi pada suku Tengger Desa Ngadas, Kabupaten Malang. Menurut Subandirjo, 2000:28) dalam Jurnal Kajian Sosial Keagamaan milik M. Thoriqul Huda dan Irma Khasanah, UIN Sunan Ampel Surabaya. Pada dasarnya masyarakat Tengger ini adalah masyarakat yang komunal yang selalu hidup secara bersamaan dalam mewujudkan kekeluargaan yang harmonis, terlihat dari toleransi yang begitu tinggi ketika melakukan ritual adat, membangun rumah secara bersamaan, bercocok tanam, menghadiri hajatan terbilang sangatlah erat dalam menjaga keharmonisan umat beragama. Karena, masyarakat Tengger mempunyai norma jika mereka tidak mau hidup rukun akan dikatakan sebagai Wong Sing Ora Lumrah Atau Wong Ora Lumrah.

Norma itulah yang mungkin tidak dimiliki oleh suku-suku lainnya, hingga akhirnya menyebabkan terjadinya konflik pada satu suku. Jika dilihat kembali, Indonesia memiliki beragam suku, ras, budaya, dan agama. Tentu sangat mengkhawatirkan jika kejadian-kejadian konflik ini akan datang secara terus menerus pada generasi-generasi kita.

Bahkan yang membuat saya kembali kagum pada toleransi sosial suku Tengger ini adalah mereka dapat hidup berdampingan dengan rukun meskipun agama yang dipeluk berbeda. Seperti kisah Mujianto yang dilaporkan oleh Terakota.id, ia tinggal serumah bersama ibunya yang memeluk Buddha dan mertuanya beragama Hindu.

“Berurutan Ibu melaksanakan Waisak, mertua beribadah Galungan dengan menyiapkan sesaji. Sementara saya, anak, dan istri tetap melaksanakan puasa” ujar Mujianto warga Desa Ngadas, Kabupaten Malang.

Setiap orang-orang Tengger pada desa Ngadas tentu saja selalu mengedepankan sikap saling menghormati. Bahkan ketika salah satu agama sedang merayakan hari besar, maka tanpa melihat agama orang-orang Tengger pun juga ikut berpartisipasi dalam hari besar tersebut.

Budaya pada suku Tengger lah yang membuat mereka dapat bersatu dengan bergotong royong untuk mencapai keutuhan masyarakatnya. Terlebih lagi rasa kekeluargaan suku Tengger pada desa Ngadas ini juga selalu tertanam pada masyarakatnya.

Hal tersebut juga sama seperti yang dijelaskan oleh Nur Sya’bani Arif Hidayat, Universitas Muhammadiyah Malang, dalam jurnal penelitian yang ditulisnya, fenomena yang terjadi di desa Ngadas memiliki nilai toleransi umat beragama yang sangat kuat. Pada kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Ngadas saling menyapa dan saling bergotong royong atas keharmonisannya.

Fenomena keanekaragaman agama desa Ngadas yang menjadi ciri khas adalah keharmonisan dalam hubungan antara warga yang berbeda agama Islam, Hindu, dan Buddha. Perbedaan agama tidak menjadi alasan masyarakat desa Ngadas dalam mengembangkan toleransi sosial.

Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh suku Tengger pada desa Ngadas ini mungkin sudah diterapkan sejak zaman nenek moyang. Maka tidak heran jika hampir seluruh warganya sudah terbiasa untuk melakukan gotong royong. Tidak heran pula jika saat ini generasi penerus suku Tengger di desa Ngadas juga diajarkan untuk saling menghormati dan selalu bergotong royong.

Tidak ada salahnya bagi kita penerus generasi bangsa untuk berusaha dan turut menjaga keharmonisan bangsa kita. Mengedepankan budaya dan suku adalah sebagai salah satu kunci untuk menjaga keutuhan Indonesia.

Tidak hanya itu, menghargai pilihan orang lain dalam beragama juga termasuk dalam kunci dalam keharmonisan berwarganegara. Jika bukan kita yang mewujudkan impian pahlawan-pahlawan lalu siapa lagi? Oleh karena itu, tetap cintai budaya dan suku kita ya Ker. (Siw)

Penulis: Shofiyatul Izza W

Editor: Rofidah Noor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *