Ini Dia Fakta Balai Kota Malang Yang Harus Kamu Tau

Balai kota Malang, pusat pemerintahan yang sudah ada sejak masa kolonial Belanda (Gambar diambil dari web Wikipedia.org)

DIORAMALANG.COM, 30 AGUSTUS 2020 – Sebagai pusat pemerintahan, gedung balai kota Malang ternyata punya cerita sejarah yang tak bisa dilupakan. Gedung ini memang menjadi salah satu saksi bisu atas perjuangan Arek Malang dalam mempertahankan wilayahnya dari kolonial Belanda. Bangunan yang terletak di Jalan Tugu Malang ini baru rampung dikerjakan kurang lebih 15 tahun setelah Malang ditetapkan sebagai Kota Praja.

Dikemukakan dalam penelitian mahasiswa UIN Malang, Aulia Novi Setiyowati, bahwa Kota Malang didirikan pada masa penjajahan. Hal ini menimbulkan pertumbuhan bangunan yang dibangun pada zaman tersebut. Sebagian bangunan kini ditetapkan menjadi aset pemerintah Kota Malang dan diakui sebagai cagar budaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Salah satunya adalah gedung pemerintahan balai kota Malang

Ihwal pendirian ini terjadi pada tahun 1914, di tahun itu pemerintahan tak kunjung memiliki gedung pemerintahan dan kepemimpinannya masih berada di tangan Gemeenteraad (Dewan Kota), padahal pada periode tersebut Kota Malang sudah ditetapkan sebagai Kota Praja. Akhirnya pada tahun 1929 balai kota berhasil dibangun dan baru digunakan secara resmi pada tahun 1930.

Diwartakan dalam Ngalam.id, pihak kota (Gemeente) membuat rencana perluasan kota kedua (Bouwplan II) yang diputuskan pada 26 April 1920. Daerah ini dinamakan sebagai Gouverneur-Generaal Buurt. Rencana tersebut baru dilaksanakan pada tahun 1922. Lapangan yang menjadi orientasi utama daerah baru tersebut kemudian dinamakan sebagai Jan Pieterszoon Coen Plein (Lapangan JP. Coen).

Masyarakat sering kali menyebut lapangan tersebut sebagai Alun-alun Bunder karena bentuknya yang bulat. Di sekitar Alun-alun Bunder tersebut, kemudian didirikan berbagai bangunan resmi seperti Balaikota Malang, gedung sekolah HBS (AMS) atau yang kini menjadi SMA Negeri, tempat kediaman panglima militer, Hotel Splendid, Kantor Dinas Topografi, serta bangunan villa. Lingkungan baru tersebut kemudian terkenal sebagai daerah yang menjadi ciri khas Kota Malang.

Tak heran jika balai kota ini baru ada setelah 15 tahun lamanya. Usut punya usut hal ini disebabkan karena gagasannya memang baru dibahas pada akhir tahun 1926, beberapa waktu sebelum H. Bussemaker melepas jabatannya dari Walikota pertama.

Selain itu pra pembangunannya juga dilakukan secara sayembara. Ada begitu banyak peserta yang ingin berpartisipasi dalam perancangan balai kota ini. Hingga akhirnya muncullah sekelompok besar arsitek berjumlah 22 orang yang berkebangsaan Prancis dan Belanda.

Dari 22 orang tersebut, ada salah seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang ditunjuk sebagai perancang balai kota, ia adalah H.F Forn. Forn mengusung rancangan bertema “Vor de Burgens Van Malang” yang berarti “Untuk Warga Kota Malang”. Sementara perancang interiornya dilakukan oleh C. Citroen.

Pembangunan kemudian dimulai pada 14 Februari 1927. Sebanyak 287.000 gulden dikeluarkan untuk membiayai pembangunan balai kota ini. Sedangkan perlengkapan seperti perabotan dalam gedung, membutuhkan biaya sebanyak 12.325 gulden.

Pada November 1929 gedung sudah bisa dipakai, dan digunakan pertama kali pada pemerintahan Ir. EA Voorneman. Namun bukan berarti pembangunan balai kota berakhir di sini. Karena ditemukan kekurangan pada gedung pemerintahan dan perkembangan Kota Malang yang semakin pesat, pemerintah melakukan beberapa perubahan seperti yang terjadi pada ruang baca dan perpustakaan.

Pada interior bangunan, C. Citroen merancang gedung dengan gaya yang elegan. Pasalnya Citroen banyak menggunakan kayu jati putih pada elemen-elemen bangunan. Sedangkan kursinya ia menggunakan sentuhan warna kuning.

Keadaan balai kota Malang saat perang melawan Belanda (Gambar diambil dari Nationaalarchief.nl)

Dibalik kemewahan balai kota ternyata ada fakta pedih yang harus terjadi ketika Agresi Militer Belanda I berlangsung. Dari Malangtimes.com, disebutkan bahwa pada tanggal 29 Juli 1947 Belanda menyerbu Malang. Kemudian Pada tanggal 31 Juli 1947 pukul 9.30 WIB tentara Belanda menduduki Kota Malang.

Sebelum tentara Belanda memasuki kota, gedung balai kota sudah dibumihanguskan oleh para pejuang. Bukan gedung balai kota saja yang dihancurkan, gedung-gedung penting lainnya meliputi seribu bangunan turut dibakar. Baru setelah perang kemerdekaan gedung Balai Kota Malang kembali dibangun.

Gedung balai kota Malang kini menjadi salah satu bangunan paling penting yang ada di Kota Malang. Seperti yang dikemukakan dalam karya ilmiah oleh Lalu Mulyadi dan Gaguk Sukowiyono, bahwa balai kota Malang masuk ke dalam kategori bangunan yang punya nilai sejarah dan berkarakteristik sebagai pusaka kota (urban heritage) di Kota Malang.

Hal ini dikarenakan kualitas desainnya yang bagus dan dapat diamati oleh masyarakat; bentuk fasade bangunannya yang spesifik, unik, khas, istimewa, dan konseptual; suasana lingkungan bangunannya yang bagus; punya nilai sejarah dengan umur lebih dari 50 tahun; terjadi peristiwa dan fungsi yang penting ketika bangunan didirikan.

Itu dia beberapa hal yang harus kamu tahu tentang bangunan balai kota Malang. Bagaimana pendapatmu Ker? (Rof)

Penulis: Rofidah Noor

Editor: Shofiyatul Izza W

6 thoughts on “Ini Dia Fakta Balai Kota Malang Yang Harus Kamu Tau

    1. Hai kak, terima kasih atas responnya. Yuk baca artikel menarik lainnya di Dioramalang.com dan jangan lupa untuk share keindahan Malang dengan segala aspeknya 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *