Si Cantik Menawan Ini Bernama Kawasan Ijen

Kawasan Ijen, ruas kota paling cantik di Kota Malang (Gambar diambil dari web Direview.id)

DIORAMALANG.COM, 21 AGUSTUS 2020 – Cantik jelita, sepertinya cocok disematkan untuk kawasan sepanjang jalan Ijen. Kawasan dengan penataan sedemikian rupa itu berhiaskan banyak pohon palem di sepanjang jalan. Bangku-bangku taman juga ikut tersebar di beberapa sudut jalan. Belum lagi dengan jajaran rumah mewah nan megah yang saling berjajar rapi di sepanjang jalan, menambah suasana tersendiri yang mustahil terlupakan kala melewatinya.

Jalan Ijen, memang berbeda dengan jalan-jalan di Kota Malang lainnya. Jalan Ijen merupakan landmark Kota Malang yang sering dikunjungi masyarakat lokal maupun luar untuk Car Free Day pada hari Minggu pagi atau hanya sekedar bersantai dan berfoto di bangku-bangku taman.

Kawasan Ijen ini terbilang unik, karena dua ruas jalan yang ada di tempat ini memiliki nama jalan yang berbeda. Pertama adalah Jalan Besar Ijen atau yang dahulunya bernama Idjen Boulevard, jalan ini dimulai dari perempatan Jalan Kawi hingga mencapai Bundaran Jalan Panggung. Sedangkan kedua adalah Jalan Ijen atau Idjen Straat, yang dimulai dari Bundaran Jalan Panggung sampai Jalan Bandung.

Ir. Herman Thomas Karsten (kiri), arsitek Belanda yang mencanangkan tata letak Kota Malang (Gambar diambil dari web Izi.travel)

Kota Malang tak akan punya jalan secantik ini tanpa jasa seorang arsitek Belanda bernama Ir. Herman Thomas Karsten. Karsten memang kerap kali menjadi dalang dan penasihat dalam penataan kota di Hindia Belanda, khususnya Kota Malang pada tahun 1929-1935. Ia membangun Idjen Boulevard dalam dua tahap, yakni pada bouwplan (rencana perluasan pembangunan kota) ke 5 dan ke 7.

Pada tahap ke 5 ini perluasan pembangunan kota dilakukan besar-besaran karena terjadi pembangunan Jalan Ijen yang penataannya sudah disiapkan matang dan sedemikian rupa serta pembangunan stadion sebagai fasilitas umum.

Pada tahap ke 7 pembangunan Ijen di lanjutkan di atas tanah dengan luas 252.948 meter persegi. Pembangunan ditekankan pada rumah-rumah dengan ukuran besar atau yang kerap disebut sebagai Villa.

Menurut laporan dari Malang.merdeka.com, dengan memperhatikan keindahan serta konektivitas dengan bagian yang lain di kota, Karsten mulai merancang jalan Ijen sebagai daerah perumahan mewah bagi banyak pejabat. Pembangunan wilayah ini sendiri dilakukan oleh Karsten pada tahun 1935 dengan perencanaan tata kota yang sesuai sampai tahun 1960.

Idjen Boulevard dan rumah-rumah era Hindia Belanda (Gambar diambil dari web Wikimedia.org)

Perumahan mewah para pejabat itu memiliki lantai satu dan atap yang tinggi menjulang. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar rumah dapat bertahan dengan iklim serta cuaca yang ada di Kota Malang pada saat itu. Hingga saat ini rumah-rumah di Jalan Ijen masih tetap ukurannya. Hanya saja desain arsitekturnya yang mengalami beberapa perubahan.

Dengan konsep taman dan ruang terbuka, penataan jalan yang ciamik ini kemudian membawa penataan Idjen Boulevard berhasil ikut dalam Pameran Tata Kota Dunia di Paris tahun 1937 dengan bantuan penasihat Kotamadya Bandung.

Menilik Jurnal Lanskap Indonesia oleh D. Budiyono dkk, Kota Malang memiliki karakter sebagai kota kolonial yang berpotensi besar dalam memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang sejarah Indonesia. Untuk itu Kota Malang punya banyak peluang dalam kegiatan pariwisata khususnya sebagai nilai tambah dalam melestarikan sejarah, atau bahasa lainnya adalah wisata sejarah (historic tourism) yang menjadi salah satu bentuk wisata budaya.

Dijelaskan pula bahwa berdasarkan analisis aspek sosial budaya, penduduk Ijen memiliki nilai sosial budaya tertinggi dari keseluruhan lokasi jalur Timur-Barat, dikarenakan adanya kawasan peninggalan kolonial yang direncanakan oleh Karsten, dengan konsep lingkungan garden city yang sampai saat ini sebagian masih terjaga keasliannya serta dapat dinikmati oleh masyarakat umum.

Karsten juga merecanakan karakter taman seperti yang ada di Eropa dengan bentuk boulevard yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Selain mengusung konsep garden city di sepanjang jalan Timur-Barat, perencanaan awal yang dilakukan oleh Karsten adalah menjadikan Gunung Kawi sebagai point of interest. Namun pandangan tersebut terhalang akibat dari penempatan bangunan Museum Brawijaya.

Konsep Green City dengan pohon dan taman di sepanjang ruas Jalan Ijen (Gambar diambil dari web Astrianin.wordpress.com)

Konsep “garden city” atau “kota taman” ini merupakan gagasan perencanaan kota karya Ebenzer Howard pada tahun 1989 yang sangat diminati oleh bangsa Eropa. Berdasarkan hasil riset dari Muhammad Nur Hidayat, mahasiswa UIN Malang, konsep tersebut dibawa oleh Karsten ke Indonesia sebagai cikal bakal kota-kota Belanda di Indonesia seperti Bandung, Malang dan Semarang.

Pembentukan pola ruang dan massa yang menarik pada kawasan ini merupakan upaya Karsten dalam menempatkan jalur jalan yang menghubungkan Kawasan Ijen, Stadion Malang, Jalan Kayutangan yang kemudian melewati jalur hijau sungai Brantas, Alun-alun Bunder beserta balai kotanya, hingga Stasiun Kota Baru.

Dengan canangan tata letak kota yang menawan, kawasan Ijen berhasil menjadi lokasi paling menarik untuk dikunjungi wisatawan. Meskipun tidak terdapat fasilitas umum yang menjelaskan kawasan ini secara langsung, akan tetapi situasi dan kondisinya yang memikat ini tetap mendapatkan tempat di hati para pengunjungnya. (Rof)

Penulis: Rofidah Noor

Editor: Shofiyatul Izza W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *