Wayang Krucil Wiloso, Wayang Warisan Turun Temurun

Pertunjukan Wayang Krucil di Dusun Wiloso, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang (Gambar diambil dari web Kumparan.com)

DIORAMALANG.COM, 15 AGUSTUS 2020 – Wayang Krucil memang tidak setenar Wayang Kulit dan Wayang Golek. Terlebih lagi dengan keanekaragaman wayang di Indonesia yang begitu banyak. Wayang Krucil merupakan wayang yang diwariskan turun temurun, hingga generasi kelima sang empu, yaitu Mbah Cilung.

Wayang Krucil bukan hanya sekedar pertunjukan yang ditonton oleh masyarakat, dengan alur cerita Mahabarata dan lain sebagainya. Wayang Krucil ini digelar rutin di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Pada setiap awal bulan Syawal, masyarakat setempat menggelar pertunjukan Wayang Krucil, yang juga dilakukan oleh pemiliknya yaitu Mbah Saniyem.

Bahkan sebenarnya pagelaran Wayang Krucil ini sudah menjadi tradisi turun temurun dan dilaksanakan pada hari kedelapan bulan Syawal. Pertunjukan seni Wayang Krucil selalu digelar di pelataran rumah Mbah Saniyem. Hal tersebut dikarenakan hanya Mbah Saniyem satu-satunya orang yang memiliki wayang tersebut.

Wayang Krucil yang berada di Desa Gondowangi ini merupakan aset budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Malang. Karena sejatinya Wayang Krucil memang diwariskan turun temurun oleh sang empu. Mbah Cilung merupakan warga setempat, yang sosoknya dikenal sebagai empu dari Wayang Krucil ini.

Dari Mbah Cilung, wayang ini turun ke Mbah Taram, kemudian ke Mbah Tarum, dan selanjutya turun ke Mbah Ngarimun. Dan hingga kini dilestarikan oleh generasi kelima yaitu Mbah Saniyem.

Mbah Saniyem Generasi Kelima Penerus Wayang Krucil di Dusun Wiloso, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang (Gambar diambil dari web Kumparan.com)

Mbah Saniyem usianya yang saat ini menginjak hampir 100 tahun selalu datang dan menyaksikan pagelaran Wayang Krucil ini. Jika usia Mbah Saniyem saja sudah hampir satu abad, maka usia Wayang Krucil ini sudah mencapai 300 tahun.

Sebenarnya yang memiliki Wayang Krucil ini bukan hanya Dusun Wiloso saja, ada pula di daerah Kediri Jawa Timur. Namun jumlah koleksinya tidak sebanyak di sini, yang jumlahnya mencapai 52 wayang.

Wayang Krucil ini memiliki perbedaan yang signifikan dengan wayang lainnya, seperti Wayang Kulit. Laporan dari Malangvoice.com, menjelaskan bahwa bahan pembuat Wayang Krucil adalah kayu yang diukir dan diwarnai sesuai karakter tokoh. Gunungan yang ada pada wayang kulit berbentuk segitiga berbahan kulit bercat emas, pada Wayang Krucil digantikan dengan rangkaian bulu burung elang Jawa berwarna coklat. Begitu juga dengan penggunaan gedebog daun pisang untuk menancapkan tokoh, dalam Wayang Krucil menggunakan bilah kayu yang sudah dilubangi.

Salah Satu Bentuk Dari Wayang Krucil Malang (Gambar diambil dari web Kumparan.com)

Wayang Krucil yang termasuk ke dalam seni kriya ini sebenarnya masih memungkinkan untuk diukir kembali dengan menggunakan sistem yang sama seperti zaman dahulu. Seperti yang disampaikan Poppy (1990, 5-7) dalam jurnal artikel milik Ranang Agung Sugihartono, apakah sistem produksi benda seni kriya di masa lalu sudah tidak relevan lagi untuk masa sekarang? Dengan mengemukakan tren dan kecenderungan itu kami mengatakan bahwa sistem produksi benda seni kriya dari masa lalu, beberapa parameter di dalamnya sesungguhnya masih tetap relevan di masa sekarang, dan bahkan tetap perlu dipertahankan.

Berdasarkan laporan dari Kumparan.com, pertunjukan Wayang Krucil menampilkan lakon tentang masuknya Islam di Jawa, berdasarkan Hikayat Panji. “Tokoh utamanya ada Panji, Damar Wulan, dan Mbah Gimbal,” kata Drais Kartono, salah satu menantu dari Saniyem.

Cerita dari Wayang Krucil ini juga dijadikan sebagai sarana syiar atau petuah untuk warga setempat. Hal tersebut selaras dengan apa yang disampaikan oleh Camat Wagir, Ichwanul Muslimin yang dikutip pada Malangtimes.com, “Pemilik wayangnya yaitu Mbah Saniyem, sekarang dipegang cucunya yang ketujuh dari Pangeran Pekik. Dimana wayang ini sebagai sarana syiar petuah atau sosialisasi terhadap tradisi Syawalan,” ujarnya. Lebih lanjut dirinya menerangkan bahwa syiar yang disampaikan dalam Wayang Krucil ini tentang petunjuk hidup yang berasal dari Al-Quran umat muslim.

Setiap pagelaran wayang, terdiri dari beberapa orang yang memegang peran. Dimulai dari dalang, pengiring musik, hingga sinden. Dan kebanyakan dari mereka berusia lebih dari 50 tahun. Bahkan ada pula penabuh kendang yang sudah berusia 70 tahun.

Suasana Pertunjukan Wayang Krucil di Dusun Wiloso, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang (Gambar diambil dari web Kumparan.com)

Meskipun orang-orang di dalamnya sudah berusia lanjut, namun setiap pagelaran Wayang Krucil selalu ramai dikunjungi warga untuk menyaksikan. Semua usia pun juga turut menikmati cerita Wayang Krucil tersebut, bahkan sesekali guyonan dalang pun juga mengundang tawa warga yang menyaksikan.

Melihat dari beberapa pemegang peran pada Wayang Krucil ini, mulai dari dalang hingga sinden yang dapat dikatakan sudah berumur, tentu sangatlah disayangkan jika tidak ada generasi penerus mereka.

Hingga saat ini sebenarnya sudah banyak pemuda Dusun Wiloso, yang dilatih memainkan alat musik Jawa untuk mengiringi pagelaran Wayang Krucil. Begitu juga dengan dalang dan juga sinden. Tidak ketinggalan juga dengan tradisi Syawalan di dusun ini, apapun yang terjadi tradisi mereka tidak boleh hilang begitu saja.

Namun ada salah satu upaya pelestarian pagelaran Wayang Krucil ini, yang mana dengan adanya upaya ini diharapkan mampu mengenalkan Wayang Krucil ke masyarakat secara meluas. Hal tersebut disampaikan oleh Faisal Adi Kurniawan dalam jurnal perencanaan yang ditulisnya, pertunjukan yang sarat akan nilai sakral ini sudah jarang dimainkan, jarang dikenal dan banyak diantara wayang yang patah. Melihat permasalahan ini, Wayang Krucil Malang memerlukan suatu inovasi untuk mengenalkan dalam media buku ensiklopedia. Sehingga, Wayang Krucil Malang dapat dikenal luas oleh masyarakat.

Wayang Krucil Malang merupakan aset budaya yang telah dibangun oleh Mbah Cilung, yang tentu nantinya akan dijaga dan dilestarikan oleh generasi-generasinya. Kamu juga termasuk dalam generasi penerus lo Ker. Jadi jangan ragu untuk mengakui Wayang Krucil Malang ini sebagai seni budaya kamu. (Siw)

Penulis: Shofiyatul Izza W

Editor: Rofidah Noor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *