Tembang Macapat yang Masih Dicintai Masyarakat

Artikel ini berisi konten komersial dari pihak yang bekerja sama dengan Dioramalang.com

Ilustrasi Pesinden yang Sedang Melantunkan Tembang Macapat (Gambar diambil dari web Ngalam.id)

DIORAMALANG.COM, 14 AGUSTUS 2020 – Malang memang terkenal memiliki banyak kesenian tradisi yang masih lestari dan tak sedikit diantaranya masih terus berkembang. Kesenian tersebut diantaranya  yaitu  Seni  LudrukTari TopengJaranan, dan  masih banyak yang lainnya. 

Namun kali ini Dioramalang akan mengajak kamu untuk mengenali kesenian yang tidak kalah menarik yaitu Tembang Macapat. Tembang satu ini mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri lo Ker, yuk simak terus ulasan di bawah ini!

Mungkin bagi generasi milenial kesenian satu ini cukup asing, apalagi bagi masyarakat luar Malang. Macapat sendiri adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu.

Macapat memiliki arti sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), maksudnya adalah cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Macapat Malangan sendiri merupakan seni membaca cerita yang memiliki beberapa macam.

Dikatakan dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Puji Santoso bahwa Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Kata tembang dalam bahasa Jawa ada dua arti.

Arti pertama berpadanan dengan kata tambuh “tidak tahu, tidak mengerti, tidak keruan” dan gebuk “pukul”. Misalnya tembang rawat-rawat “berita yang belum jelas atau tidak terang” dan tembang aksi “pandang-memandang” ditembang (1) “ditambuh atau digebug”, (2) “ditambuh atau dibunyikan bagi tengara dan sebagai-nya”, (3) “ditebang atau dirembang bagi pohon tebu”.

Arti kedua tembang adalah ‘syair lagu’ atau ‘nyanyian’. Lebih lanjut dijelaskan bahwa makna tembang yang kedua ini adalah iketan karangan awewaton guru lagu sarta guru wilangan apa dene kanthi lelagon atau “ikatan karangan berdasarkan guru lagu serta guru wilangan yang dirangkai menjadi lagu”.

Tembang Macapat Malangan dahulu berkembang di daerah pedesaan. Terbentuk dari kesenian rakyat yang memiliki sifat biasa dan apa adanya. Kesenian satu ini juga memiliki arti kebersamaan, karena erat sekali dengan masyarakat serta sangat komunikatif.

Dulunya tembang ini dilakukan pada saat menjaga bayi dan ketika bersantai. Selain itu Macapat Malangan dijadikan sebagai ilmu pengetahuan, tuntunan untuk melestarikan bahasa dan sastra Jawa.

Di setiap daerah khususnya di Jawa tentunya mempunyai kesenian tembang satu ini. Ada sejumlah tembang macapat yang menjadi ciri khas dari setiap daerah tersebut. Seperti Semarangan, Mataraman, Gresikan, Majapahitan, Tengger, dan Malangan.

Jenis-jenis tersebut diambil dari daerah berkembangnya, dengan gaya yang sesuai dengan budaya sekitar. Arti dari gaya sendiri merupakan suatu kekhasan  atau kekhususan yang dimiliki oleh suatu  wilayah, untuk memunculkan suatu ciri khas, itu ditandai oleh ciri fisik, estetika (musikal)  dan sistem kerja (garap) yang  dimiliki oleh seorang seniman, berkreativitas berkarya baik secara perorangan atau kelompok (Supanggah, 2002 : 137).

Tembang Macapat sendiri memiliki ciri khas yang ada di gaya cengkok khas Malangan. Ciri tersebut berlaku di setiap cengkok dan lafal pengucapan kata yang berasal dari Malang. Sehingga, jika memenuhi ciri-ciri itu bisa dikatakan tembang macapat asal Malangan.

Laporan dari Ngalam.co menjelaskan bahwa selain cengkoknya yang menjadi ciri utama Tembang Macapat Malangan, juga ada aturan dan ciri-ciri lainnya yang berlaku, yaitu:

  • Tata aturan umum pada bait. Ciri-ciri tembang macapat meliputi guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Pertama yaitu guru gatra. Gatra merupakan baris jika dalam bahasa Indonesia. Guru gatra diartikan jumlah gatra per bait. Kedua ada guru wilangan. Wilangan artinya bilangan.

    Guru wilangan berarti jumlah suku kata di setiap gatra. Ketiga yaitu guru lagu (swara). Adalah bunyi vokal di setiap akhir bait. Pada macapat Malangan, guru wilangan dan guru gatranya  tidak tetap, kadang ditambah atau dikurangi. Sedangkan untuk guru lagu tak jarang berbeda dengan aturan pada umumnya.
  • Cengkok. Cengkok disini diartikan lekuk-lekuk suara untuk melagukan tembang menurut perasaan penembang. Cengkok ini menjadi salah satu pembeda utama dengan tembang macapat di daerah lainnya. Sebab, budaya setempat sangat memengaruhi pembawaan seni vokal ini.
  • Dialek Malangan. Dialek adalah variasi bahasa sekelompok penutur yang berada di daerah yang sama. Pelafalan dialek Malangan adalah salah satu bagian khas dari tembang macapat ini. Dimana akan dapat dikenali bahwa pengucapan sang penembang sangat khas dari Malang.

Pada  dasarnya  Tembang  Macapat Malangan disajikan dengan bentuk  waosan atau tanpa  di iringi  instrumen gamelan. Biasanya dipakai  untuk  keperluan  acara  ritual,  seperti sepasaran bayi (acara peringatan lima hari usia bayi dalam kandungan), mitoni (acara  peringatan  tujuh  bulanan  banyi  dalam  kandungan)  dan  lain sebagainya.

Tembang Macapat Malangan (Gambar diambil dari web blogkulo.com)

Pada sebuah jurnal yang di tulis oleh Asmaun Sahlan dan Mulyono menjelaskan bahwa sampai saat ini tembang macapat merupakan bagian terpenting dari budaya Nusantara. Bahkan tembang macapat dengan segala kandungan isinya memiliki berbagai fungsi sebagai pembawa amanat, sarana penuturan, penyampaian ungkapan rasa, media penggambaran suasana, penghantar teka-teki, media dakwah, alat pendidikan serta penyuluhan, dan sebagainya. Semuanya dapat terwadahi oleh tembang macapat, baik hal-hal yang terlihat nyata dalam bentuk tersurat, maupun kandungan-kandungan yang tersimpan (tersirat).

Pada masa kini apalagi di kota besar, tembang macapat yang merupakan karya sastra Jawa kuno sudah jarang sekali kita dengar. Hal ini dikarenakan kurang pedulinya generasi muda untuk belajar dan melestarikan kesenian  tersebut, kecuali pada komunitas yang peduli akan budaya Jawa.

Namun ada beberapa gerakan mahasiswa yang ingin melestarikan kebudayaan Jawa. Berdasarkan laporan dari Terakota.id, pada 25 November 2018 terdapat ratusan mahasiswa dan wisatawan memenuhi pelataran Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. Mereka merupakan pengunjung Festival Panawijen Djaman Bijen.

Mahasiswa berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Peserta disambut dengan tari topeng Malang. Festival dibuka dengan tembang macapat pocung oleh Ki Suryono, dia merupakan pengajar sinau tembang macapat di Kampung Budaya Polowijen. Para pengunjung turut mengikuti dan menirukan tembang pocung, yang berbunyi:

Ngelmu iku kalakone kanthi laku (Ilmu itu hanya dapat diraih dengan cara dilakukan dalam perbuatan)

Lekase lawan kas (Dimulai dengan kemauan)

Tegese kas nyantosani (Artinya kemauan yang menguatkan)

Setya budaya pangekese dur angkara (Ketulusan budi dan usaha adalah penakluk kejahatan)

Tembang jenis pocung ini memberi pesan moral atau nasihat agar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.

Saat ini keberadaan Tembang Macapat semakin hilang dan kurang dikenal. Sebenarnya tiap tembang yang dilantunkan dalam macapat memiliki filosofi yang mendalam. Sehingga setiap pendengar dapat menghayati suatu tembang yang sedang didengarkan.

Jadi untuk kamu para generasi muda dari sekarang ada baiknya untuk mulai belajar mengenai kesenian satu ini Ker. Hal tersebut bertujuan untuk melestarikan budaya Jawa di tengah era modern seperti sekarang.

Oh iya lirik tembang macapat yang identik dengan huruf aksara Jawa kuno mempunyai makna dan ciri khas tersendiri, apalagi jika di aplikasikan ke dalam desain baju yang simple dan kekinian. Nah, kali ini dioramalang merekomendasikan ke kamu untuk mengenal produk lokal karya anak Indonesia.

Dengan membuat desain kata menggunakan aksara Jawa, tentu saja ada makna yang tersimpan di dalamnya. Daripada penasaran, kalian dapat langsung cek di instagram mereka @nation.ina. Disana juga terdapat banyak model-model yang lain lo Ker, tentunya masih dengan nuansa Indonesia. (Fiq)

Penulis: Moh. Fiqih Aldy Maulidan

Editor: Rofidah Noor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *