Kenal Kembali Budaya Melalui Mural yang Penuh Kreasi dengan Berbagai Gaya

Mural Topeng Malangan yang Merupakan Budaya Asli Malang (Gambar diambil dari web Phinemo.com)

DIORAMALANG.COM, 9 AGUSTUS 2020 – Keberadaan budaya di Malang memang sangat beragam. Namun, berbagai bentuk pelestarian harus tetap dilakukan. Hal tersebut bertujuan agar budaya yang ada di Malang tetap terjaga sehingga Malang menjadi tempat yang sangat menarik bagi para wisatawan tidak hanya dari destinasi wisatanya saja, melainkan juga karena uniknya keberagaman budaya.

Salah satu bentuk pelestarian tersebut adalah dengan mencurahkan kreatifitas tanpa batas melalui mural dengan tema budaya Malang. Melalui gambar, para seniman mural berharap agar budaya Malang lebih mudah dikenal kembali oleh masyarakat. Mengingat banyaknya fenomena khususnya para remaja yang memanfaatkan mural sebagai tempat untuk berfoto.

Buat kamu yang belum tahu tentang mural, mural adalah sebuah lukisan yang terdapat di dinding, tembok, jalanan, ataupun bangunan yang bersifat permanen. Namun jangan salah Ker, mural tentu sangat berbeda dengan kejahatan vandalisme.

Pembuatan mural harus melalui izin dengan pihak terkait agar tidak timbul permasalahan akibat lukisan yang dibuat oleh para seniman mural. Beda dengan vandalisme, yang melakukan aksinya dengan ilegal tanpa melalui izin.

Nah di Malang, kamu akan menemukan banyak sekali mural yang mayoritas memiliki tema budaya terutama di kawasan wisata kampung tematik. Selain untuk menarik pengunjung, mural juga berfungsi sebagai pesan untuk menggambarkan budaya agar terus dikenal dan dilestarikan.

Tidak hanya di tempat wisata, mural juga dibuat di tembok-tembok rumah warga bahkan hingga di perpustakaan. Salah satunya adalah di perpustakaan anak-anak yang beralamat di Jalan Untung Sudiro, RT 4 RW 4 Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Pemilihan perpustakaan sebagai tempat untuk membuat mural dikarenakan seni mural merupakan media visual yang sangat baik untuk menarik minat anak-anak sehingga bisa mengenal budaya sejak dini.

Kabar dari Jatimtimes.com, Nihru Qhikam dan kawan-kawannya yang merupakan mahasiswa jurusan Seni dan Desain dari Universitas Negeri Malang, menjelaskan apabila budaya Malang kini mulai luntur ditelan arus budaya modern. “Oleh sebab itu, kita ingin mengenalkan lagi budaya orang Malang kepada adik-adik yang berada di perpustakaan ini agar mereka tidak melupakan asal usul mereka,” jelas mahasiswa jurusan Seni dan Desain itu. 

Di lain sisi, proses pembuatan mural pun tidak asal dengan langsung menggambar, melainkan harus menentukan tempat terlebih dahulu. Setelah itu mengajukan perizinan untuk melukis bangunan tersebut. Baru lah proses melakukan mural dilakukan.

Namun, dalam pembuatan mural juga tidak langsung dilakukan dengan menggambar apa yang diinginkan, melainkan pembuatan sketsa terlebih dahulu. Hal tersebut bertujuan agar mural terlihat hidup, estetik dan mampu memberikan pesan kepada masyarakat.

Diperkuat dengan penjelasan oleh Muhammad Gazali dalam Jurnal Seni yang ditulisnya, menjelaskan bahwa selain memiliki nilai estetika yang dapat memperindah kota, mural juga merupakan salah satu media yang efektif dalam menyampaikan sebuah pesan.

Seperti mural di Malang yang kebanyakan menggambarkan tentang budaya Malang. Dalam mural tersebut terkandung pesan bahwa budaya Malang sangat perlu mendapat perhatian dan juga perlu untuk dilestarikan. Maka dari itu, pembuatan mural bertema budaya Malang harus dibuat sebaik mungkin agar bisa dipahami oleh masyarakat.

Mengingat Malang memiliki beragam budaya, maka mural yang dibuat tentu harus memperhatikan detail-detail budaya yang diangkat untuk disampaikan kepada khalayak.

Berdasarkan laporan dari Kompasiana.com, mural yang kini hadir hampir di setiap sudut Kota Malang tentunya memiliki nilai estetik yang berbeda, tergantung dari mural yang digambarkan dan isi pesan yang terkandung didalamnya.

Mural yang Dibuat Untuk Mengajak Masyarakat Melestarikan Budaya Malang (Gambar diambil dari web Kompasiana.com)

Melalui mural yang bertema budaya di Malang, tentu saja muncul harapan agar budaya Malang bisa dilestarikan oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan mural selain digunakan sebagai spot foto, juga bisa sebagai jembatan komunikasi dimana setiap lukisan memiliki makna tersendiri.

Makna lain juga dijelaskan oleh Anang Tri Wahyudi dan kawan-kawannya dalam artikel penelitian yang mereka tulis, dimana selain sebagai media ekspresi seniman, mural juga sebagai bagian dari media komunikasi yang menjembatani antara gagasan sang kreator dengan publik.

Di Malang sendiri, mural yang dibuat adalah seputar budaya dan didukung oleh pemerintah. Budaya tersebut diantaranya adalah Topeng Malangan sebagai seni budaya asli Malang, Singa sebagai logo tim sepak bola kebanggaan Malang dan juga sebagai identitas budaya Malang yaitu Arema Culture, dan masih banyak lagi.

Jadi jangan anggap semua mural sebagai kejahatan vandalisme ya Ker, karena dari mural kita bisa mengenal kembali tentang budaya yang mulai luntur. Kuy berkreasi untuk melestarikan budaya agar tidak hilang ditelan zaman! (Awp)

Penulis: Alvien Wardhana P

Editor: Rofidah Noor

2 thoughts on “Kenal Kembali Budaya Melalui Mural yang Penuh Kreasi dengan Berbagai Gaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.