Mengenal Malang Melalui Film ‘Yowis Ben’ Sebagai Karya Lokal

Bayu Eko Moekito yang Berhasil Mengangkat Potensi Malang Melalui Karya Filmnya (Gambar diambil dari web Kompas.com)

DIORAMALANG.COM, 28 JULI 2020 – Halo Ker! Siapa sih yang nggak kenal Malang? Salah satu daerah yang tidak pernah sepi akan wisatawan karena keindahan alam dan keberagaman budayanya. Namun tidak lengkap rasanya jika kamu belum mengenal Malang secara luas. Nah untuk lebih tahu tentang Malang, seorang remaja asli Malang membuat karya berupa film yang menggambarkan suasana dan budaya Malang.

Ia adalah Bayu Eko Moekito atau biasa dikenal dengan sebutan Bayu Skak. Tidak tanggung-tanggung, film yang disutradarai oleh Bayu Skak sendiri telah menembus pasar nasional karena berhasil mengangkat Malang untuk lebih dikenal masyarakat luas. Penasaran? Simak ulasan berikut ini!

Malang merupakan daerah yang dingin dan sejuk dengan berbagai keberagaman pesona alam dan multikulturnya. Banyaknya destinasi wisata dengan berbagai macam konsep, membuat Malang tidak pernah terlewatkan oleh para wisatawan.

Menilik lapran dari Malang-guidance.com, Kota terbesar kedua di Jawa Timur ini memiliki julukan beraneka ragam seperti Paris van East Java, Kota Wisata, Kota Militer, Kota Sejarah, Kota Apel, Kota Dingin, Kota Kuliner, dan masih banyak julukan lainnya.

Banyaknya julukan yang melekat pada Malang, menjadi bukti bahwa Malang memiliki segala aspek yang diminati oleh para masyarakat luar Malang. Salah satu aspek yang terkenal hingga seluruh Indonesia adalah film ‘Yowis Ben’ dengan genre komedi.

Dalam film tersebut, terdapat banyak penggunaan bahasa Jawa dengan logat Malangan dan juga menampilkan beberapa tempat wisata di Malang salah satunya adalah Kampung Warna-warni Jodipan.

Kampung Warna-Warni Sebagai Salah Satu Destinasi Wisata di Malang (Gambar diambil dari web Jejakkrismon.com)

Selain menambah sisi humor, penggunaan bahasa Jawa dan beberapa scene yang menampilkan tempat wisata merupakan strategi dalam pengenalan budaya dan wisata Malang.

Bahkan hal tersebut juga mendapat dukungan dan apresiasi dari Wali Kota Malang karena bisa meningkatkan potensi budaya dan wisata tersebut. Penjelasan yang termuat dalam Malangtimes.com, menjelaskan bahwa melalui karya kreatif yang terus digelorakan anak-anak muda itu, Sutiaji berharap potensi yang dimiliki Kota Malang akan terus terangkat.

Di lain sisi, film ‘Yowis Ben’ juga bisa sebagai pacuan bagi Arek Malang untuk terus berkreasi dengan menghasilkan karya-karya yang positif. Suksesnya film tersebut di kanca perfilman Indonesia, bisa menjadi contoh bagi anak-anak muda Malang untuk menumbuhkan bakatnya.

Dikutip dari Inibaru.id, meski secara keseluruhan film tersebut bercerita tentang pembentukan grup band remaja, film ini sebenarnya mengambil tema kegelisahan remaja yang tengah mencari jati diri.

Maka bisa dikatakan bahwa film hasil karya dari Bayu Skak tersebut, sangat berperan dalam penyampaian pesan moral bagi masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Malang. Peran film ‘Yowis Ben’ bisa dilihat dari penggunaan bahasa yang beragam atau dalam bahasa ilmiah disebut dengan campur kode.

Penjelasan campur kode tersebut dipaparkan oleh Lisa Ariyani dalam Kajian Sosiolinguistik Film yang ditulisnya, dimana campur kode yang terjadi dalam film Yowis Ben karya Fajar Nugros dan Bayu Eko Moektito yaitu penggunaan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Inggris.

Sekilas memang tampak biasa saja. Akan tetapi jika diteliti lebih dalam, penggunaan tiga bahasa tersebut menunjukkan bahwa kita harus tetap mencintai bahasa kita sendiri baik bahasa daerah maupun bahasa nasional namun juga tetap menghargai bahasa lain yaitu bahasa Inggris sebagai penambah wawasan.

Kemudian dari sisi pesan moral, film ‘Yowis Ben’ yang menceritakan tentang anak muda dalam mencari jati diri, juga tidak terlepas dari pesan-pesan yang tersirat. Pesan moral tersebut juga dijelaskan oleh Dyan Nugroho dalam penelitiannya, menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga pesan moral.

Pertama, seorang anak yang berbakti kepada orang tua dengan membantu berjualan pecel disekolah. Kedua, seorang anak yang menunaikan Ibadah wajib yaitu shalat. Ketiga, pentingnya pendidikan untuk anak dengan cara belajar bersungguh-sungguh dan bisa menghargai waktu.

Selain memiliki peran dan pesan moral bagi masyarakat, film ‘Yowis Ben’ juga berdampak kepada aktifitas dari beberapa aspek di Malang. Film yang menembus pasar nasional tersebut, mampu meningkatkan jumlah wisatawan dan juga mampu melestarikan bahasa daerah yang semakin dicintai oleh masyarakat Malang.

Logat Malangan saat ini telah banyak ditemui bahkan tidak hanya di daerah Malang saja. Hal tersebut merupakan pengaruh yang dihasilkan dari film ‘Yowis Ben’ sehingga Malang bisa semakin dikenal masyarakat Indonesia khususnya dalam aspek wisata dan budaya. Jadi, buat kamu Ker, jangan lelah untuk terus melestarikan budaya sendiri ya! Dan jangan lupa juga untuk terus berkreasi! (Awp)

Penulis: Alvien Wardhana P

Editor: Rofidah Noor

2 thoughts on “Mengenal Malang Melalui Film ‘Yowis Ben’ Sebagai Karya Lokal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *