Lebih Dekat dengan Masjid Agung Jami’ Malang

Masjid Agung Jami’ Malang yang sudah berumur lebih dari satu abad (Gambar diambil dari web Duniamasjid.islamic-center.or.id)

DIORAMALANG.COM, 20 JULI 2020 – Di Kota Malang ada satu bangunan masjid yang sangat ikonik, terkenal dengan struktur bangunannya yang orisinal dan punya nilai sejarah tersendiri. Bangunan ini bernama Masjid Agung Jami’ Malang.

Dibangun sejak 130 tahun yang lalu tidak membuat masjid ini kehilangan eksistensinya. Tak jarang seringkali datang wisatawan yang sengaja berkunjung untuk melihat dan merasakan langsung suasana Masjid Agung Jami’ Malang yang telah berumur lebih dari satu abad.

Secara bahasa, kata Masjid dimaknai sebagai tempat yang dipakai untuk sujud. Sujud berarti kegiatan ibadah yang dilakukan oleh Muslim kala waktu shalat tiba. Selain digunakan untuk beribadah, masjid biasanya juga dimanfaatkan sebagai tempat menuntut ilmu, kegiatan sosial, hingga pertemuan-pertemuan keagamaan.

Hal ini berlaku juga untuk Masjid Agung Jami’ Malang yang sejak dulu memang sudah banyak digunakan untuk melaksanakan ritual keagamaan yang berkaitan dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan, sosial hingga budaya.

Pada masa awal berdirinya, Masjid Agung Jami’ Malang masih bernama Masjid Jami’ Malang, tetapi karena masjid ini jadi institusi penting bagi umat Islam khususnya masyarakat Malang pada saat itu, maka namanya diubah dengan tambahan kata ‘Agung’ yang bermakna ‘Besar’ dan ‘Luhur’.

Masjid Agung Jami’ Malang pada tahun 1948 (Gambar diambil dari blog Nazlahhasni)

Menilik dari web Masjidjami.com, menurut prasasti yang ada, Masjid Agung Jami’ Malang yang beralamat di Jalan Merdeka Barat No. 3 Kota Malang ini dibangun dalam dua tahap. Pembangunan pertama dimulai pada tahun 1890 di atas tanah Goepernemen atau tanah negara sekitar 3000 meter persegi. Kemudian pembangunan selanjutnya dilakukan mulai 15 Maret 1903 sampai 13 September 1903. Jadi total penyelesaian pembangunan dilakukan selama 13 tahun.

Masjid Agung Jami’ ini punya konstruksi bangunan yang unik, bentuknya seperti bujur sangkar dan berstuktur baja dengan atap tajug tumpang dua. Hal itu tetap di pertahankan hingga saat ini demi menjaga keaslian bangunan.

Keberadaannya terletak tepat di depan alun-alun yang mana merupakan jantung Kota Malang ini menegaskan citra religius Malang yang memiliki slogan Malang Kucecwara atau bermakna ‘Tuhan menghancurkan yang bathil’. Disamping itu Masjid Agung Jami’ Malang juga menjadi salah satu simbol ketaatan masyarakat Malang kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Informasi yang dikutip dari web Duniamasjid.islamic-center.or.id, menjelaskan bangunan megah Masjid Agung Jami’ Malang dipengaruhi oleh dua gaya arsitektur, yaitu Jawa dan Arab. Gaya arsitektur Jawa terlihat pada adanya empat tiang utama penyangga masjid dengan konsep soko guru, sedangkan arsitektur Arab terlihat pada bentuk kubah menara masjid serta konstruksi lengkung pada bidang-bidang bukaan.

Menurut Pudji Pratitis Wismantara dalam Karya Ilmiahnya, memaparkan bahwa Masjid Agung Jami’ Malang mengadopsi dua gaya arsitektur Jawa dan Arab atau Pan Islamic yang kontradiktif sehingga menyebabkan ambiguitas identitas masjid yang muncul akibat pertemuan dua entitas yang saling bertolak belakang.

Entitas yang dimaksud adalah nilai klasik dan modern, setempat dan pendatang, sakral dan profan, terlindung dan ternaung, serta orientasi vertikal dan horisontal. Kedua entitas tersebut saling melengkapi, dan karena itulah bersifat komplementer.

Tampak bagian luar Masjid Agung Jami’ Malang dengan pengaruh arsitektur Islam (Gambar diambil dari web Duniamasjid.islamic-center.or.id)

Disamping itu, Pita Sari dalam jurnal penelitiannya menyatakan bahwa setelah dianalisis unsur dan desain bangunan masjid dengan karakteristik Islamic Pattern, maka Masjid Agung Jami’ Malang dipastikan dapat masuk ke dalam tipe bangunan beraksitektur Islam karena Masjid Agung Jami’ banyak mengadopsi gaya arsitektur Islam pada konstruksi keseluruhan bangunan mulai dari kubah, lisplank, arkade hingga dinding.

Hal ini dapat dilihat dari karakteristik bangunan Islam yang banyak menonjolkan repetisi bentuk di seluruh ornamen. Ornamen Masjid Jami’ Malang menerapkan beberapa fungsi seperti fungsi estetis, fungsi simbolis, serta fungsi konstruktif. Fungsi yang mendominasi adalah fungsi estetis yang berarti ornamen berfungsi sebagai ragam hias serta estetika bangunan.

Bagian dalam bangunan Masjid Agung Jami’ Malang (Gambar diambil dari web Duniamasjid.islamic-center.or.id)

Meski begitu arsitektur bagian dalam masjid ini memiliki tampilan yang berbanding terbalik dengan tampak depan bangunan. Bagian dalam masjid banyak didominasi gaya arsitektur tradisional lewat ornamen material kayu pada jendela, pintu, dan plafon. Ditambah dengan aksen rangka kayu pada plafon mengesankan gaya ruang tradisional.

Mihrab atau tempat Imam memimpin shalat pada Masjid Agung Jami’ Malang (Gambar diambil dari web Duniamasjid.islamic-center.or.id)

Gaya arsitektur tradisional Jawa semakin menguat ketika melihat empat tiang besar yang terbuat dari kayu jati dan 20 tiang yang membentuk kolom di dalam masjid. Lalu pada bagian lantai masjid dibuat sakral dengan memberikan ketinggian sekitar 105 cm dari muka tanah. Begitupun dengan mihrab yang di desain dengan lantai yang lebih tinggi lagi supaya menambah kesakralan. Kemudian ada pula penempatan beberapa makam leluhur pendiri masjid di belakang mihrab.

Berumur lebih dari satu abad tidak membuat Masjid Agung Jami’ Malang kehilangan kharismanya. Masjid megah dengan dua gaya arsitektur yang ciamik ini harus banget masuk ke dalam check list tujuan kamu kala datang ke Malang. Ditambah lagi masjid ini dipercaya menjadi satu dari tiga masjid tertua yang ada di provinsi Jawa Timur. Kalau udah begini, kamu pasti bakalan berkunjung kesini kan Ker? (Rof)

Penulis: Rofidah Noor

Editor: Shofiyatul Izza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *