Destinasi Wisata Spiritual Petirtaan Ken Dedes Watu Gede

Petirtaan Ken Dedes atau Watugede, Singosari, Kabupaten Malang (Gambar diambil dari web Indonesiakaya.com

DIORAMALANG.COM, 19 JULI 2020 – Malang memiliki keragaman budaya dan sejarah yang cukup panjang sehingga dinobatkan sebagai wilayah Kebudayaan Jawa yang memiliki cerita sejarah panjang. Keberadaannya di pegunungan yang subur, memungkinkan terdapat banyak peninggalan sejarah kebudayaan dan kesenian yang masih berkaitan dengan kelestarian alam. Salah satunya yaitu pada peninggalan petirtaan Ratu Ken Dedes atau pemandian Ratu Ken Dedes.

Siapa diantara kamu yang sudah pernah mengunjungi pemandian Ratu Ken Dedes yang terletak di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang? Nah, kalau kamu belum pernah berkunjung  ke sana maka bisa banget nih pemandian Ratu Ken Dedes kamu jadikan untuk jadi destinasi wisata selanjutnya.

Pemandian Ratu Ken Dedes ini terletak di Jalan Anusopati, Pagetan, Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Hanya berjarak satu kilometer saja dari Candi Singosari. Ada baiknya sebelum berkunjung ke sana kamu ketahui lebih dulu bagaimana sejarah dan mitos-mitos yang ada di pemandian Ratu Ken Dedes ini Ker.

Di pemandian Ratu Ken Dedes ini banyak sekali bermunculan mitos-mitos yang akhirnya membawa wisatawan datang ke destinasi wisata sejarah spiritual ini. Ditambah lagi, pemaparan dari Junianto dalam Jurnal Ilmiah yang ditulisnya, menjelaskan bahwa Kawasan Situs Petirtaan Watugede yang  masyarakat awam biasa menyebutnya dengan “pemandian” ini merupakan salah satu dari tipe peninggalan bangunan masa Hindu-Buddha yang dikenal sampai saat ini.

Petirtaan memiliki kata dasar tirta yang berarti air. Air dalam tradisi Shiva-Buddha, menjadi hal yang penting, khususnya terkait dengan ritual “penyucian diri”. Seringkali, tempat untuk mendirikan candi atau bangunan yang dianggap “suci” berlokasi tidak jauh dari sumber air alami.

Petirtaan Watugede sebagai Pemandian Ratu Ken Dedes dan Putri-Putri lainnya (Gambar diambil dari web Indonesiakaya.com)

Menilik informasi dari Indonesiakaya.com, Petirtaan Watugede sebutan lain untuk Petirtaan Ken Dedes dibangun pada sekitar tahun 1200-an pada masa dimana Kerajaan Singosari Berjaya di Tanah Jawa. Petirtaan Ken Dedes merupakan Kaputren untuk para putri-putri raja, yaitu sebuah tempat bermain dan mensucikan diri. Konon nama Petirtaan Ken Dedes diambil dari sebuah nama putri cantik jelita, yang merupakan anak seorang Raja Tumapel. Pada masa kejayaan petirtaan, hanya putri beserta dayang saja yang dapat memasuki area pemandian Petirtaan Ken Dedes, para pria tak diperkenankan masuk apalagi berbaur bersama putri raja.

Di pojok Petirtaan Ken Dedes dan Palinggih terdapat sebuah sumur tempat bersembahyang bagi para pemeluk agama Hindu. Palinggih biasanya digunakan untuk meletakkan sesaji yang diperuntukkan bagi para dewa yang dipercaya bersemayam di sekitar tempat ini.

Di samping Palinggih, terdapat pohon yang diperkirakan masyarakat setempat telah tumbuh kokoh bersamaan dengan berdirinya Petirtaan Ken Dedes. Masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan pohon “elo”. Selain itu, di petirtaan ini juga terdapat arca berbentuk manusia berkepala kera dan mengeluarkan air yang berfungsi mengisi air kolam.

Dari sejarah tersebut akhirnya melahirkan mitos dikalangan masyarakat, jika air di pemandian atau petirtaan Ken Dedes tersebut dapat membuat awet muda. Hal tersebut juga akhirnya menggiring masyarakat untuk datang pada destinasi wisata petirtaan Ken Dedes ini. Rasa penasaran pada lokasi wisata ini juga menjadi salah satu alasan pengunjung untuk datang di pemandian Ken Dedes.

Kawasan Petirtaan Watugede yang Masih Asri dan Rindang (Gambar diambil dari web Indonesiakaya.com)

Pemandian atau Petirtaan Ken Dedes menjadi salah satu upaya untuk tetap melestarikan peninggalan milik Kerajaan Singosari. Petirtaan Watugede atau pemandian Ratu Ken Dedes ini juga menjadi bukti jejak kota kuno Singosari pada masanya.

Petirtaan Ken Dedes masih berfungsi dengan baik, bahkan selain untuk pemandian umum petirtaan ini juga biasa digunakan untuk ritual bagi pelaku komunitas pelestari budaya Jawa. Petirtaan ini juga sering kali digunakan oleh para pelestari budaya sebagai tempat meditasi atau dapat dikatakan sebagai bentuk media untuk bersatu dengan alam. Biasanya tempat ini difungsikan untuk berdo’a dengan cara yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun, guna untuk dapat merasakan energi alam di tempat tersebut.

Banyaknya pengunjung yang datang ke Petirtaan atau Pemandian Ratu Ken Dedes ini didominasi oleh mereka yang ingin melakukan kegiatan spiritual, maka secara tidak langsung kawasan petirtaan ini juga dapat dikatakan sebagai destinasi wisata spiritual.

Setelah menjadi destinasi wisata spiritual, banyak sekali dampak positif dirasakan oleh masyarakat setempat seperti segi ekonomi, sosial hingga kultural. Maka dari itu, upaya pengembangan pun juga terus dilakukan oleh masyarakat tanpa membuat perubahan besar supaya tetap menjaga keasliannya.

Petirtaan Watugede ini memiliki beberapa perbedaan bila dibandingkan dengan petirtaan lainnya. Perbedaan petirtaan ini dijelaskan oleh Dr. Rahadhian PH dan Fery Wibawa dalam penelitiannya, dimana pola-pola petirtaan Watugede ini bersandar di bukit atau lereng tanah dengan pola ‘U’.

Bangunan ini terletak di sebuah mata air yang timbul dari bawah sebatang pohon di tebing sebelah timur, air sumber itu mengalir ke dalam sebuah telaga yang tenang dan di sana dialirkan melalui saluran-saluran dan pancuran ke dalam dua buah kolam yang terletak berdampingan terpisah oleh sebuah dinding.

Air yang Mengalir dan Terlihat Tenang Menambah Suasana Petirtaan Sebagai Destinasi Wisata Spiritual (Gambar diambil dari web Radarmalang.jawapos.com)

Kolam yang di utara adalah kolam yang digunakan untuk kaum lelaki dan letaknya agak lebih tinggi serta dapat dimasuki melalui tangga dari batu alam. Pada dinding batu bata yang sederhana terdapat Sembilan buah pancuran yang dihiasi dengan lukisan. Kebanyakan merupakan lukisan laki-laki ataupun perempuan yang duduk di atas lubang pengairan dan semuanya dikerjakan dengan kasar. Melihat dari jenis patungnya maka pemandian ini menunjukkan adanya sifat Buddhis.

Jadi bagaimana Ker? Kamu berminat untuk melakukan destinasi wisata spiritual di Petirtaan Watugede atau pemandian Ratu Ken Dedes? Jika kamu berkunjung ke sana, jangan lupa untuk tetap selalu jaga kebersihan dan tingkah laku ya Ker. (Siw)

Penulis: Shofiyatul Izza

Editor: Rofidah Noor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.