Museum Mpu Purwa Simpan Memori Peradaban

Museum Mpu Purwa Sebagai Salah Satu Wisata Edukasi (Gambar diambil dari web Travelingyuk.com)

DIORAMALANG.COM, 18 JULI 2020 – Dalam bayangan kita pergi ke tempat wisata seperti museum merupakan hal yang membosankan, tetapi kali ini kami akan memberikan sebuah fakta menarik mengenai Museum Mpu Purwa yang menyimpan segudang pengetahuan sebagai bahan pembelajaran. Hal tersebut bisa diterapkan, di mana salah satunya di Museum Mpu Purwa. Museum ini terletak di Jawa Timur, tepatnya di Jalan Soekarno-Hatta No. 210 area komplek Perum Griyashanta yang tidak jauh dari RS Universitas Brawijaya dan kampus POLTEK Malang. Cukup banyak peninggalan bersejarah yang ada di museum tersebut, di antaranya ada berbagai macam arca, prasasti maupun artefak dari peninggalan kerajaan Jawa kuno yang ada di sana.

Koleksi peninggalan benda bersejarah di museum ini cukup banyak sekali, dimulai dari zaman pra-sejarah sampai dengan zaman Hindu-Buddha. Dimana yang telah banyak diketahui, Jawa Timur dikatakan menjadi saksi bisu atas kejayaan kerajaan pada masa lalu, seperti kerajaan Kanjuruhan, Mataram Kuno, Singasari, dan Majapahit. Jadi tak heran jika di wilayah ini banyak sekali menyimpan peninggalan-peninggalan yang konon berasal dari Abad VIII. Museum ini menyimpan beberapa koleksi yang menggambarkan peradaban Malang di masa lalu. Dikutip dari Kompasiana.com Museum Mpu Purwa saat ini memiliki 132 koleksi benda bersejarah, namun hanya 58 benda saja yang dipamerkan di ruang Museum, sementara sisanya ditempatkan di ruang penyimpanan khusus.

Peninggalan tersebut cukup bermacam dari prasasti, dan arca. Koleksi utama yang ada di museum ini adalah Prasasti Dinoyo, Prasasti Muncang, dan Prasasti Kanuruhan. Lalu ada juga Arca diantaranya adalah Arca Resi Guru, Arca Dewa Siwa, Arca Ganesha, dan masih banyak yang lainnya. Salah satu arca yang menjadi peninggalan bersejarah yang dapat dikatakan istimewa di museum ini yaitu Arca Ganesha Tikus, mengapa demikian? Karena arca tersebut biasanya banyak  ditemukan di India. Namun secara mengejutkan arca tersebut ditemukan di Indonesia yang sekarang hanya ada di Museum Mpu Purwa  dan merupakan satu-satunya Arca Ganesha yang tidak ada di museum lainnya.

Beberapa Pajangan Artefak dan Prasasti di Museum (Gambar diambil dari web Travelingyuk.com)

Asal muasal dari nama Arca Ganesha Tikus ini karena menggambarkan sang dewa yang mengendarai Musaka (seekor tikus kecil), dimana Ganesha digambarkan sedang duduk diatas seekor tikus kecil. Semua benda tersebut adalah murni peninggalan dari masa kerajaan Kanjuruhan di abad VIII M sampai masa akhir kerajaan Majapahit di abad XVI M dan tentunya memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Mulanya sebelum menjadi Museum Mpu Purwa, bangunan ini digunakan sebagai gedung sekolah dasar yang pernah dijadikan sebagai Balai Penyelamatan peninggalan bersejarah. Dahulu Balai Penyelamatan itu berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan dan merawat benda-benda yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Terutama yang berhubungan dengan perkembangan kota Malang sejak abad VIII M sampai tahun 1950-an.

Lalu benda-benda peninggalan tersebut dititipkan di DPU kemudian dititipkan lagi di Taman Rekreasi Senaputera. Kemudian pada tahun 2001, Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pendidikan mengumpulkan penemuan benda purbakala yang ada di Kota Malang yang ditempatkan di gedung bekas SDN Mojolangu 2. Seiring berjalannya waktu, bangunan tersebut direnovasi untuk dijadikan tempat yang lebih layak menyimpan benda-benda purbakala.

Akhirnya pada 2 Mei 2004, gedung tersebut diresmikan oleh Walikota Malang yang menjabat pada saat itu, Drs. Peni Suprapto. Gedung itu diberi nama Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa atau lebih dikenal sebagai Museum Mpu Purwa. Nama tersebut diambil dari salah satu tokoh religius masyarakat Jawa Kuno yang ada sekitar abad XII Masehi di Desa Panawijen, sebelah timur lereng Gunung Kawi.

Mpu Purwa terpilih sebagai nama museum karena sosok ini merupakan cikal bakal raja-raja besar seperti Kertanegara dari Singasari, dan Hayam Wuruk dari Majapahit. Berdasarkan laporan dalam Aremamedia.com, alasan dipilihnya Sosok Mpu Purwa mempunyai pertimbangan sebagai berikut :

  • Mpu Purwa bukanlah sosok pendeta agama Buddha biasa, tetapi ia seorang Sthapaka. Sthapaka adalah pendeta yang utama, putus dalam 16 macam ritual pensucian, berkelahiran tinggi, tahu arti dan makna kitab suci, mahir dalam ilmu pengetahuannya, bertingkah laku sesuai ajaran kitab suci, dan sebagainya.
  • Nasihat dan tuahnya dinanti semua orang. Kutukannya pun ditakuti semua orang.
  • Mpu Purwa adalah sosok pendeta cikal bakal raja-raja besar seperti Kertanegara dari Singasari dan Hayam Wuruk dari Majapahit, sebab anak Mpu Purwa yaitu Ken Dedes adalah sumber keturunan raja-raja tersebut.
  • Diharapkan Balai Penyelamatan tersebut mampu memberikan sumbangan berupa visual sejarah untuk memotivasi nilai-nilai budi pekerti (seperti Mpu Purwa) terhadap masyarakat Kota Malang, khususnya siswa-siswa di sekolah.

Namun pada tahun 2014 hingga 2017 Direktorat Pelestarian Cagar Budaya & Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan merevitalisasi museum Mpu Purwa melalui Dana Tugas Pembantuan.

Hingga pada akhirnya di tahun 2018 seperti laporan dari Kompas.com museum itu dibuka dan diresmikan kembali oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhajir Effendy. Beliau mengatakan pihaknya akan menyediakan dana alokasi khusus untuk kebudayaan. Hal itu seiring dengan terbitnya Undang – undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan. “Sekarang sudah punya anggaran sendiri untuk kebudayaan. Insya Allah, Tahun 2019 juga ada dana alokasi khusus ke kebudayaan. Dananya belum banyak,” katanya.

Sedangkan dalam Jurnal yang ditulis oleh Andrea Angelina Cipta Wijaya peran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang yang mempunyai fungsi sebagai pelaksanaan pengembangan dan promosi potensi wisata. Pelestarian benda cagar budaya bermanfaat dalam mendukung pelaksanaan pengembangan dan promosi potensi wisata khususnya di Kota Malang.

Pemerintah Daerah Kota Malang sudah cukup maksimal dalam melindungi benda-benda cagar budaya di Kota Malang, hanya saja masih terdapat beberapa faktor yang menjadikan tidak efektifnya upaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang dalam melindungi benda Cagar Budaya di Kota Malang.

Jika kamu masuk ke dalam Museum Mpu Purwa, kamu akan dibuat takjub karena museum ini setelah direvitalisasi memiliki penampilan ruangan yang lebih berwarna dan terkesan milenial serta dilengkapi dengan teknologi yang modern. Koleksi yang ada di museum ini ditata rapi dengan pencahayaan lampu yang cerah.

Selain arsitektur ruangan yang dibuat lebih menarik, museum ini juga sudah dilengkapi dengan teknologi QR Code atau sistem scanning. Dimana nantinya setiap pengunjung bisa mengakses informasi tiap benda purbakala secara langsung dan lebih detail tanpa adanya pemandu, dengan cara scan pada barcode yang sudah tertera.

Dalam museum ini juga terdapat ruangan multimedia dimana para pengunjung dapat menikmati film tentang sejarah Kerajaan Singasari. Semua fasilitas tersebut disediakan agar pengunjung dapat menikmati museum dengan cara yang beragam.

Hal tersebut didukung oleh Eka Ayu Violita dalam Jurnal menyatakan bahwa, belajar dengan sesuatu media baru merupakan sebuah metode pembelajaran yang mampu mengeksplorasi berbagai macam sumber untuk mendapatkan alat bantu yang tepat untuk mengajar dan melengkapi apa yang sudah disediakan di dalam buku cetak, untuk menambah informasi, untuk memperluas konsep dan untuk membangkitkan minat peserta didik (Kochhar, 2008:160).

Museum merupakan salah satu tempat yang dapat dijadikan sebagai sumber dalam pembelajaran sejarah. Pendidik dapat melakukan kunjungan ke museum untuk menunjukan fakta sejarah kepada peserta didik. Museum memiliki benda-benda yang dapat dipegang dan dilihat, sedangkan dalam lingkungan pembelajaran tidak dapat disajikan seperti di museum (Schouten, 1991:69)

Jadi dapat kita lihat dari banyaknya koleksi peninggalan-peninggalan yang ada di museum tersebut, sudah sepatutnya bagi kita semua menjaga bersama agar tetap lestari. Serta yang paling penting, apabila kamu berkunjung ke Kota Malang jangan lupa untuk datang ke Museum Mpu Purwa ya Ker! Disini kamu bisa liburan sembari belajar sejarah peradaban Malang yang sangat berarti. (Fiq)

Penulis: Moh. Fiqih Aldy Maulidan

Editor: Rofidah Noor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.