Belajar Kreatif Bersama Djoko Rendy

Sosok Djoko Rendy dengan salah satu karyanya (Gambar diambil dari web Terakota.id)

DIORAMALANG.COM, 18 JULI 2020 – Selalau ada saja cara unik yang dilakukan seorang seniman untuk mengekspresikan kecintaanya terhadap profesi yang ditekuninnya Ker. Mulai dari membuat sebuah karya dengan memanfaatkan limbah, hingga menciptakan sesuatu yang unik yang belum pernah terfikirkan oleh orang lain harus dilakukannya. Menjadi seorang seniman memang dituntut untuk selalu kreatif dan juga inovatif dalam berkarya, karena lawan yang harus mereka hadapi adalah sebuah kemajuan dari teknologi, dimana seiring perkembangannya dapat mengancam keberadaan sebuah seni dan juga kebudayaan yang ada di Indonesia.

Inilah yang dilakukan oleh salah satu seniman Kota Malang yaitu Djoko Rendy, seorang seniman yang selalu aktif dan juga kreatif dalam menciptakan sebuah karya, guna melestarikan sebuah kebudayaan khas Kota Malang yaitu Topeng Malangan.

Djoko Rendy bukanlah seniman biasa, karena Djoko Rendy terkenal sebagai seniman yang selalu memiliki hal-hal unik dalam menciptkakan sebuah karya khususnya Topeng Malangan. Dalam membuat sebuah karya Topeng Malangan, Djoko Rendy selalu bereksperimen dengan menggunakan berbagai jenis bahan dalam menciptakan sebuah maha karya.

Bagi Djoko Rendy, sebuah kayu bukanlah satu-satunya bahan yang dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam pembuatan sebuah Topeng Malang. Ditangan seorang Djoko Rendy, menciptakan sebuah Topeng Malangan dapat menggunakan berbagai jenis bahan. Terbukti dari beberapa karyanya, Djoko pernah menciptakan sebuah Topeng Malangan yaitu dengan menggunakan bahan yang tidak biasa, seperti fiber, besi, kertas, semen, hingga cor beton.

Laporan dari Cendananews.com, alasan Djoko Rendy menggunakan berbagai bahan yang terkadang tidak biasa dalam menciptkan sebuah karya Topeng Malangan, adalah sebagai salah satu cara untuk melestarikan sebuah kebudayaan dan untuk mengenalkan sebuah kesenian sejak dini kepada para generasi muda. “Saya beranggapan, Topeng Malangan ini tidak hanya sekedar bisa digunakan untuk menari, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai souvenir dan untuk bahan pembelajaran, sehingga sejak dini anak-anak kita nanti bisa mengetahui salah satu bagian seni budaya tradisi itu sendiri”, ujarnya kepada Cendana News.

Tidak berhenti sampai disana saja, demi melestarikan sebuah kebudayaan yang semakin terlupakan akibat era modern yang semakin berkembang. Pada tahun 2013 Djoko Rendy kembali mencoba bereksperimen dalam menciptakan sebuah karya Topeng Malangan. Ditemani sang istri Maria Carmela, Djoko Rendy ingin menyalurkan karyanya melalui sebuah bahan yang tidak hanya dapat dinikmati, tapi juga dapat dimakan.

Banyak bahan baku yang terpikirkan Djoko untuk menyalurkan ide kretifnya saat itu, namun bahan yang terpilih untuk digunakan sebagai bahan pembuatan Topeng Malangan yang pada akhirnya jatuh kepada sebuah coklat. Djoko Rendy memilih menggunakan coklat sebagai bahan pembuatan Topeng Malangan dengan alasan, karena coklat adalah makanan yang banyak disukai semua orang.

Djoko Rendy, dengan coklat Topeng Malangan (Gambar diambil dari Cendananews.com)

Keputusan Djoko Rendy dan juga istrinya untuk menggunakan sebuah coklat sebagai bahan baku dalam pembuatan Topeng Malangan, bisa dikatakan sebagai keputusan yang sangat tepat. Terbukti dari hasil karyanya, dimana Topeng Malang yang berbahan dasar coklat ternyata begitu disukai oleh banyak orang. Bahkan coklat buatanya tidak hanya disukai oleh warga Malang saja loh Ker, namun ada juga turis asing yang berasal dari Jerman. “Ada warga Jerman yang tahu karya kami di sebuah pameran. Beberapa kali dia memesan coklat ke saya. Tidak rutin, tapi sudah beberapa kali kirim ke Jerman” kata Maria istri sang seniman kepada Liputan6.com.

Kesenian merupakan produk budaya suatu bangsa, semakin tinggi kesenian suatu bangsa, maka semakin tinggi pula nilai budaya yang terkandung didalamnya. Mungkin hal inilah yang ingin disampaikan oleh seniman asal Malang Djoko Rendy. Dengan terus menciptakan banyak karya kreatif dan inovatif dalam membuat suatu karya, ia ingin melahirkan sebuah karya yang memiliki nilai yang berkualitas, karena karya yang berkulitas akan menggambarkan realitas sosial, tradisi, adat istiadat dan sistem pemerintahan suatu daerah.

Dalam jurnal penelitian yang dilakukan oleh Edi Eskak yang berjudul Metode Pembangkitan Ide Kreatif Dalam Penciptaan Seni menjadi seorang seniman memang harus memiliki sebuah ide yang tidak biasa, kreatif dan juga inovatif dalam menciptakan sebuah karya seni, karena seni merupakan salah satu identitas budaya dan sebuah eksistensi suatu bangsa yang harus selalu dijaga.

Tidak heran jika Djoko Rendy selalu disebut sebagai seniman yang selalu memiliki jiwa kreatif Ker, karena menurut jurnal yang ditulis oleh Dwi Endah Lestari dan Muhammad Syafiq yang berjudul Proses Kreatif Seniman Rupa seorang seniman dapat dikatakan kreatif, ketika memiliki kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru, atau paling tidak memiliki kesigapan, kelancaran, dan kemampuan untuk mengahsilkan banyak gagasan secara cepat, dan hal ini terbukti dari beberapa koleksi Topeng Malangan buatanya, yang dia ciptakan dari berbagai macam bahan yang tidak biasa.

Seperti membuat Topeng Malangan dari limbah kertas, fiber, kayu, besi, cor beton, batu, hingga berupa sebuah manik-manik dari batu alam, dan yang terakir dengan menggunakan sebuah coklat. Djoko Rendy sengaja menciptakan Topeng Malangan dengan menggunakan bahan yang tidak biasa agar terlihat unik, dengan harapan agar keberadaan Topeng Malangan tetap terjaga eksistensinya, terutama pada kalangan anak muda. Yuk ker, kita bantu para seniman Kota Malang dengan mulai lagi mencintai Topeng Malangan. (Syz)

Penulis: Syaifudin Zuhri

Editor: Shofiyatul Izza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *