Menengok Tempat Peribadatan Paling Berumur yang Tetap Subur

Peninggalan warga Tionghoa yang Masih Terjaga Keasliannya (Gambar diambil dari web wisatamalangku)

DIORAMALANG.COM, 16 MEI 2020 – Bangunan peribadatan merupakan salah satu peninggalan paling tua di Kota Malang. Salah satunya adalah adalah bangunan klenteng, rumah ibadah peninggalan warga Tionghoa di Indonesia. Klenteng yang kami ulas ini diketahui telah ada sejak dua abad yang lalu. Jika dihitung sampai sekarang, umurnya telah mencapai 194 tahun. Hingga kini, bangunan tersebut masih berdampingan dengan wilayah pasar besar, tepatnya di Jalan Laksamana Martadinata, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Meskipun di jalan tersebut didominasi pertokoan, namun Klenteng tersebut tetap terlihat berbeda dari bangunan besar lainnya, tetap kokoh dan masih terjaga. Didominasi dengan warna merah menyala serta adanya gapura mungkin jadi salah satu faktor yang menambah suasana kental akan budaya Tionghoa hingga membuat bangunan ini terlihat mencolok diantara bangunan lainnya. Klenteng ini bernama Klenteng Eng An Kiong.

Mulanya Klenteng ini dibangun pada tahun 1825 atas upaya Liutenant Kwee Sam Hway, keturunan ketujuh dari seorang Jenderal pada masa Dinasti Ming yang berkuasa di Tiongkok. Kala itu, keturunan sang jenderal ditekan oleh Dinasti Jing sehingga terpaksa harus melarikan diri ke Nusantara. Pelarian tersebut juga tidak terlepas dari perjalanan armada besar-besaran dari Laksamana Cheng Ho yang mengarungi samudera hingga India.

Dalam perjalan ke Nusantara, ada beberapa prajurit yang diturunkan di berbagai daerah yang disinggahinya. Pengikut yang diturunkan tersebut nantinya akan dijemput kembali ketika armada hendak kembali ke Tiongkok.

Seiring berjalannya waktu para pengikut yang diturunkan tadi akan dijemput untuk kembali ke Tiongkok, sebagian prajurit ada yang ingin kembali ke Tiongkok, namun ada pula yang tidak ingin kembali kesana. Hal tersebut disebabkan karena mereka telah menikahi wanita yang berada di daerah tempat mereka singgah, dan mereka memiliki keturunan.

Hal serupa itupun dialami pada keturunan dari seorang jenderalnya. Sang kapten merupakan keturunan kelima jenderal pada masa Dinasti Ming yang mendarat di Jepara yang kemudian menikah dengan seorang wanita yang leluhurnya singgah di Sumenep, Madura.LiutenantKwee Sam Hway adalah cucu dari sang Kapten, dia lahir pada tahun 1801.

Dia akhirnya merantau dari Sumenep menuju ke Malang, dan menjadi seorang Lieutenant (pemimpin warga Tionghoa) di Kota Malang. Seiring berjalannya waktu ketika memimpin warga Tionghoa ia memiliki inisiatif membangun Klenteng Eng An Kiong. 

Sementara itu, nama Eng An Kiong sendiri memiliki arti “Istana Keselamatan dalam Keabadian Tuhan”. Nama tersebut berasal dari bahasa Tiongkok. Dimana menurut bahasa yaitu ‘Eng’ berarti abadi, ‘An’ berarti keselamatan, dan ‘Kiong’ bermakna istana.

Menilik informasi dari Situsbudaya.id, Klenteng Eng An Kiong ini juga ditujukan sebagai rasa penghormatan kepada Kongco (yang mulia) dan Hok Tik Cing Sien (Beroleh Berkah dalam Kebajikan). Klenteng ini diperingati setiap tanggal 6 bulan Juni pada penanggalan Lunar (Khongcu–lik).

Dalam pembangunnya, Klenteng Eng An Kiong sendiri menempuh dua periode. Periode pertama ialah pembangunan pada ruangan tengah dan ruangan inti yang dilakukan pada tahun 1825. Kemudian selanjutnya disusul pembangunan bangunan-bangunan lain di sekitarnya tepatnya pada tahun 1895 dan 1934 yang dilakukan secara bertahap.

Selain bangunannya yang unik, klenteng tersebut juga memiliki keunikan lain. Yaitu sebagai klenteng Tri Dharma. Bisa dikatakan klenteng yang digunakan sebagai tempat ibadah bagi tiga umat beragama sekaliagus. Yaitu penganut agama Ji (Khonghucu), Too (Tao), dan Sik (Buddha).

Ciri khas lain dari klenteng ini ialah warna bangunan yang mencolok. Dimana dominasi warna yang digunakan diantaranya ada merah dan kuning. Masing-masing warna tersebut memiliki makna tersendiri. Warna merah memiliki makna kehidupan, kebahagiaan dan keberanian sedangkan warna kuning memilik makna keagungan. Pada salah satu sudut bangunan juga terdapat kolam ikan koi yang cantik, yang semakin memberikan nuansa khas dan unik dari tempat ini.

Bangunan ini dibuat dengan arsitektur bernuansa Tiongkok dan Eropa yang membuat daya tarik tersendiri bagi klenteng tersebut. Pada bangunan itu juga banyak ukir-ukiran, lukisan serta ornamen yang memiliki nilai seni yang tinggi dan makna yang mendalam. Salah satunya yaitu ornamen Naga yang banyak dijumpai di bangunan tersebut, karena Naga melambangkan keberanian dan kepemimpian bagi warga Tionghoa.

Klenteng ini bisa dikatakan memiliki bangunan yang cukup besar karena didukung dengan halaman yang cukup luas, jika dibandingkan dengan beberapa klenteng lain yang di Indonesia. Contohnya pada Klenteng Boen San Bio di Tangerang dan Klenteng Po An Kiong di Solo. Kedua klenteng tersebut harus berdempetan dengan bangunan komersial lain di tengah lingkungan yang padat dengan halaman yang tidak begitu luas.

Awalnya bangunan pada Klenteng Eng An Kiong ini hanya dibuat untuk tempat ibadah utama saja. Akan tetapi seiring berjalannya waktu klenteng tersebut terus mengalami perkembangan.

Hingga saat ini bangunan tersebut memiliki luas sekitar 5.000 meter persegi. Klenteng ini memiliki 99 patung dewa-dewi atau disebut rupang (kiem siem) di seluruh ruangan. Saat ini klenteng tersebut juga memiliki aula untuk kegiatan kesenian yang sering di adakan disana.

Sama halnya dengan klenteng lain yang memiliki beberapa altar sebagai tempat ibadahnya, Klenteng Eng An Kiong juga memiliki beberapa altar. Pada bagian depan ada dua altar utama, di bagian sisi kanan ada empat altar bagi Agama Konghucu, bagian sisi kiri ada empat altar bagi Agama Budha dan bagian belakang ada tiga altar bagi Agama Tao.

Selain dikunjungi untuk tempat beribadah, klenteng ini juga ramai dikunjungi pada hari-hari atau perayaan tertentu yang diyakini oleh masyarakat Tiongkok. Setiap hari Sabtu, klenteng menggelar acara Cia Peng An atau makan gratis. Hari-hari besar yang biasa diadakan yaitu Tahun Baru Imlek, Cap Gomeh, Upacara Sedekah Bumi, Festival Dōngzhì (Perayaan Ronde), Peringatan kesempurnaan Dewi Kwan Im dan masih banyak yang lainnya.

Sampai saat ini, Klenteng Eng An Kiong masih menjadi tempat ibadah dan pusat kegiatan agama dan budaya Tionghoa yang sering dikunjungi di Malang. Selain beribadah, tempat ini juga bisa dinikmati sebagai sarana pertunjukkan unik, seperti Barongsai dan Wayang Potehi. Selain itu kalian juga bisa melakukan Chiam Si atau ramalan keberuntungan yang bisa jadi opsi unik dan menarik untuk dilakukan di klenteng ini.

Meskipun klenteng ini sudah berumur tetapi bangunannya tetap subur dan terjaga keasliannya dari dulu hingga sekarang. Ditambah lagi laporan Pipit Anggraeni pada Malangtimes.com, yang menjelaskan keberaan Klenteng Eng An Kiong juga menjadi suatu penanda keharmonisan dan kerukunan antar umat beragama. Karena sampai sekarang, toleransi terjaga dengan baik. Selain itu, berbagai bentuk seni dan budaya juga masih bisa dinikmati.

“Klenteng Eng An Kiong juga menjadi salah satu simbol bahwa kita semuanya satu. Meski berbeda agama, keyakinan dan suku, kita semua satu yaitu Indonesia. Maka harus selalu menjaga kerukunan,” pungkas Anton, selaku humas Klenteng Eng An Kiong. Jadi gimana Ker, nggak penasaran untuk melihat keindahan klenteng ini? Buruan jadwalkan rencana kamu untuk berkunjung ke klenteng tertua yang ada di kota Malang ini! (Fiq)

Penulis: Moh. Fiqih Aldy Maulidan

Editor: Rofidah Noor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *