Gereja Kayutangan, Pengingat Masa Penjajahan

Gereja Tertua Saat Ini dengan Bangunan Ala Tempo Doeloe (Gambar diambil dari blog Kekunaan The Story Of Indonesian Heritage)

DIORAMALANG.COM, 12 MEI 2020 – Jika kamu berkunjung ke Malang, maka kamu perlu mengetahui suasana tempo doloe yang ada di Jalan Basuki Rahmat. Tidak hanya ornamen berupa bangunan rumah yang berbau tempo doloe, tapi kamu juga terdapat bangunan ibadah. Bangunan tersebut adalah Gereja Kayutangan, yang menjadi saksi akan eksistensi umat katolik pada masa penjajahan Belanda. Mau tau cerita dari Gereja Kayutangan? Kuy Ker simak terus cerita tentang Gereja ini.

Pada tahun 1716, VOC atau persekutuan dagang asal Belanda mulai memegang tampuk kuasa atas Malang dan mendirikan benteng pertahanan yang kini telah berubah menjadi Rumah Sakit Celaket atau Rumah Sakit Saiful Anwar.

Kala itu mereka geram karena timbul banyak pemberontakan yang terjadi di wilayah tersebut. Sejak saat itu mereka mulai tinggal dan menguasai Kota Malang.

Dibawah genggaman Belanda, beberapa bangunan penting seperti kantor Bupati, Penjara, Masjid, hingga Gereja dipusatkan di sekitar alun-alun. Wilayah pemukiman bahkan juga diatur oleh mereka, dan wilayah yang ditempati oleh orang Eropa berada di daerah barat daya alun-alun yaitu di sekitar Taloon, Tongan, Sawahan dan sekitarnya, serta di sekitar Kayoetangan, Oro-Oro Dowo, Tjelaket, Klodjenlor dan Rampal.

Saat itu pemerintah kolonial Belanda mayoritas adalah pemeluk agama Katolik dan Protestan. Maka tak heran bila saat itu banyak bermunculan gereja-gereja di Malang. Apalagi dengan adanya Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, lokasinya yang tepat berada di Kayutangan menjadikan bangunan ini tujuan utama para pemeluknya untuk beribadah.

“Gereja ini menjadi saksi eksistensi umat Katolik sejak masa kolonial Belanda di Kota Malang,” kata Agung H Buana, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang ketika dikutip dari Merdeka.com.

Aktivitas Peribadatan di Gereja Kayutangan (Gambar diambil dari web keuskupan-malang)

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus atau yang kerap disebut sebagai Gereja Kayutangan adalah gereja Katolik paling tua di Kota Malang. Gedung tempat peribadatan umat Katolik tertua ini sudah berdiri sejak Malang masih dalam pembagian wilayah administratif kabupaten yaitu pada tahun 1905, masih dalam era yang sama dengan lahirnya Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia) dan Palace Hotel (sekarang Hotel Pelangi) yang terletak tak jauh dari alun-alun.

Dibalik kemegahan gereja ini terdapat seorang arsitek bertangan emas yang pernah menyelesaikan pembangunan gereja katedral di Lapangan Banteng Batavia pada tahun 1898, arsitek tersebut bernama Marius J. Hulswit. Hulswit, memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan arsitektur sekaligus pelopor arsitektur kolonial modern di Hindia-Belanda. Pada pembangunan Gereja Kayutangan, Hulswit menambahkan sentuhan arsitektur bergaya Neo-Gotik.

Berdasarkan penjelasan Anyari Indah Lestari dalam karya ilmiahnya yang berjudul “Ciri Neo-Gotik pada Arsitektur Gereja Katedral Jakarta” ia menjelaskan bahwa bangunan bergaya Neo-Gotik menekankan vertikalitas dan ketinggian bangunan dengan jendela kaca yang sangat besar dan berfungsi agar cahaya lebih banyak masuk ke dalam bangunan. Pokoknya gaya arsitektur yang satu ini bikin terkagum-kagum deh, apalagi ketika melihat stuktur gedung yang tinggi, kerangka bangunan yang kokoh, serta pengaplikasian jendela dan pintu besar pada Gereja Kayutangan yang dijamin pasti akan terkesima.

Kemegahan Gereja Kayutangan dengan Bangunan yang Tinggi (Gambar diambil dari web keuskupan-malang)

Jadi gereja yang tertua bukan berarti menjadi nilai mutlak bagi Gereja Kayutangan, sebelumnya pada tahun 1880 di Kabupaten Malang sudah berdiri sebuah gereja yang terletak di sebelah utara alun-alun. Gereja tersebut bahkan digunakan bersama-sama oleh umat Katolik dan umat Protestan, namun kini sudah dibongkar.

Lalu pada tahun 1897, saat itu umat Katolik sempat menumpang pendopo Kabupaten Malang sebagai tempat ibadah. Paroki yang memimpin adalah Romo Godefriedus Daniel Augustinus Jonckbloet. Dibawah pimpinan Bupati Malang, R.A. Notodiningrat III, pendopo kemudian beralih fungsi menjadi gereja Katolik lengkap dengan kamar pengakuan dosa, orgel (alat musik organ pipa), bangku komuni, dan mimbar.

Terletak di Jalan Basuki Rahmat, gereja ini punya dua menara tinggi yang menjulang hingga ketinggian 33 meter. Menara ini mulanya dibangun sekitar tahun 1930-an dan tercatat pernah runtuh sebanyak dua kali sejak dibangun.

Keruntuhan yang pertama terjadi pada 10 Februari 1957, saat itu sedang berlangsung khotbah di dalamnya. Salib di ujung menara runtuh hingga menimbulkan lubang di atapnya. Kemudian menara kembali runtuh pada 27 November 1967 karena tertabrak sebuah pesawat TNI AU.

Meski terlihat tidak begitu istimewa dibandingkan dengan gereja modern lain yang ada pada saat ini, namun Gereja Katolik Hati Kudus Yesus punya tempat lain di hati pemerintah Kota Malang. Pemerintah Kota Malang menetapkan Gereja Hati Kudus Yesus sebagai salah satu benda cagar budaya karena keberadannya yang memiliki peran penting dalam perkembangan Kota Malang.

Di lain sisi, Gereja Kayutangan juga sudah berhasil menjadi salah satu gereja kuno yang mampu bertahan hingga kini. Ia tetap jaya meski zaman sudah berganti dan tetap melayani siapapun yang membutuhkan kehadiran Tuhan. (Rof)

Penulis: Rofidah Noor

Editor: Alvien Wardhana

1 thought on “Gereja Kayutangan, Pengingat Masa Penjajahan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *