Ikat kepala khas Malang? Memangnya ada?

Udeng Kemplengan khas Kota Malang (Gambar diambil dari akun Youtube Tjandra Purnama Edhi)

DIORAMALANG.COM, 9 MEI 2020 – Apa kamu pernah mendengar ikat kepala Udeng? Aatau bahkan kamu pernah memakinya? Semoga kamu tidak merasa asing dengan kata Udeng ya Ker. Ya, Udeng merupakan sebuah ikat kepala tradisional yang dipakai oleh orang zaman dulu. Udeng juga sudah jadi produk budaya khas dari Indonesia lo. Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki ikat kepala khas dari daerahnya masing-masing, tentunya dengan nama yang berbeda-beda. Blangkon contohnya, nama yang dipakai sebagai ikat kepala tradisional ini asalnya dari Jogja. Meski asing di telinga masyarakat saat ini, Kota Malang ternyata juga punya ikat kepala khas dan asli dari Malang lo, yaitu Udeng Kemplengan.

Sejarah penggunaan Udeng dijelaskan dalam Jurnal Seni Budaya yang ditulis oleh Anugrah Cisara, menjelaskan bahwa memakai sebuah Udeng sebenarnya sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia sejak zaman dulu, khususnya di daerah Jawa.

Semenjak manusia mengenal sebuah pakaian, ikat kepala atau Udeng sering dijadikan sebagai sebuah kelengkapan dalam berbusana sehari-hari.

Udeng biasanya hanya dikenakan oleh kaum pria saja ker, karena pada masa itu Udeng dianggap sebagai sebuah simbol kebanggaan bagi para kaum laki-laki. Pada era kejayaannya, Udeng bagi masyarakat Jawa sempat menjadi sebuah status sosial yang melambangkan sebuah martabat dan kedudukan bagi para pemakainya. Untuk itulah mengapa Udeng juga sempat dijadikan sebagai pembeda antara kaum ningrat keraton atau kaum masyarakat biasa.

Semenjak masuknya era modern, Udeng sudah tidak lagi mengenal kasta sosial. Udeng kini hanya dikenal dan digunakan sebagai sebuah produk budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Udeng Kemplengan khas Kota Malang ini mempunyai ciri khas, makna, dan filosofi tersendiri lo Ker.

Mulai dari kain, bentuk dan bahkan ikatan, semuanya memiliki makna dan juga filosofi tersendiri. Seperti contonya kain yang akan digunakan sebagai Udeng, jika memiliki empat sisi maka kain tersebut harus dilipat menjadi segitiga, karena segitiga dalam Udeng Kemplengan memiliki sebuah arti yaitu suatu hubungan yang harus dijaga, seperti hubungan kepada Tuhan, kepada alam dan juga kepada manusia.

Sementara bentuk dari Udeng Kemplengan juga memiliki sebuah filosofi, seperti laporan dari Ngalam.co, terdapat empat filosofi dari Udeng Kemplengan yaitu gunungan, jeprakan, puteran, dan tali wangsul. Bentuk gunungan dari Udeng Kemplengan, adalah kain yang berbentuk segitiga yang menjulang tinggi yang terletak dibelakang kepala.

Bentuk tersebut dinamakan gunungan karena bentuk tersebut sebagai simbol dari sebuah harapan yang tinggi. Selanjutnya bentuk Jeparakan, dalam Udeng Kemplengan, Jeprakan adalah bentuk yang terdapat dibagian depan Udeng, yang memiliki tinggi sama persis antara kiri dan kanan yang diartikan sebagai sebuah keseimbangan dan sebuah keadilan dalam mengambil keputusan.

Bentuk selanjutnya adalah puteran, puteran pada Udeng Kemplengan terdapat pada bagian depan Udeng yang dibentuk dengan cara mengitari kain Udeng ke arah yang berlawanan, hingga kain tersebut membentuk sebuah benjolan kecil yang berada tepat sejajar dengan dahi. Bentuk puteran memiliki arti, yaitu sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya baik-buruk, siang-malam, tua-muda dan lain sebagainya.

Kemudian bentuk terakhir dari Udeng Kemplengan adalah ikatan yang terdapat dibelakang Udeng, yang diberi nama sebagai tali wangsul. Arti kata wangsul dalam bahasa jawa yaitu pulang atau kembali, sementara dalam Udeng Kemplengan, wangsul diartikan sebagai sebuah hubungan antara manusia dengan sang penciptanya.

Akibat pengaruh era modern, pemakaian Udeng Kemplengan di Kota Malang sudah sangat memprihatinkan. Padahal Udeng Kemplengan sangat cocok lo Ker jika dipadukan dengan gaya berpenampilan anak muda masa kini. Meskipun harus diakui kalau Udeng saat ini kalah tenar dari topi, namun tidak ada salahnya juga bukan, untuk memakainya kembali pada era sekarang ini. Hitung-hitung sebagai sebuah gerakan dalam melestarikan kebudayaan khas Kota Malang.

Gimana nih ker ? Tertarik untuk menggunakan Udeng Kemplengan ? Buat kamu yang ingin memiliki Udeng Kemplengan, kamu bisa menjumpai penjual Udeng di festival budaya. Jika tidak kebagian ataupun sulit mendapatkan Udeng, kamu cukup membeli kain batik khas Malang yang berasal dari Karangkates. Selain bisa memiliki Udeng sendiri, kamu juga bisa membuat keterampilan seni budaya ker! Yuk, lestarikan terus seni budaya asli Malang. (Syz)

Penulis: Syaifudin Zuhri

Editor: Rofidah Noor

2 thoughts on “Ikat kepala khas Malang? Memangnya ada?

    1. Hai kak terima kasih atas feedbacknya, jangan lupa untuk share ya biar yang lain tahu tentang ikat kepala asli Malang ini 🙂

Tinggalkan Balasan ke abdul wahid Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *