Ungkapan Rasa Syukur Masyarakat Pesisir Pantai Sendang Biru

Kegiatan Tradisi Petik Laut di Pantai Sedang Biru (Gambar diambil dari web wikimedia commons)

DIORAMALANG.COM, 18 APRIL 2020 – Halo Ker! Tahu nggak sih kalo kota Malang itu kaya akan tradisi leluhur yang kelestariannya tetap terjaga karena kegiatannya masih rutin dilakukan sampai saat ini? Seperti tradisi Petik Laut yang dilaksanakan di pantai Sendang Biru, Malang Selatan. Masyarakat di wilayah pantai Sendang Biru memiliki acara tahunan baik bagi para nelayan maupun warga sekitar. Selain menjadi tradisi, ternyata Petik Laut merupakan acara hajatan warga yang bekerja sebagai nelayan sebagai wujud rasa syukur terhadap melimpahnya hasil laut. Acara ini rutin digelar setiap tanggal 27 September. Tradisi yang penuh akan kesakralan ini digelar dengan sangat meriah disisi bibir pantai tepatnya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pondok Dadap Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. 

Tradisi Petik Laut di Sendang Biru dulunya hanya disebut sebagai acara syukuran nelayan biasa, karena kegiatannya berupa tasyakuran kecil yang dilakukan oleh para nelayan.  Kemudian karena adanya nelayan pendatang dari wilayah timur, yaitu dari daerah Puger (Jember) dan Muncar (Banyuwangi), acara syukuran dibuat secara besar-besaran. Alhasil mereka memadukan tradisi syukuran nelayan Sendang Biru dengan nelayan wilayah timur yang pada akhirnya masyarakat Sendang Biru memakai juga istilah Petik Laut.

Hal yang membedakan perayaan Petik Laut di Sendang Biru dengan perayaan Petik Laut di daerah lain yaitu ada pada tanggal pelaksanaannya. Di daerah lain pelaksanannya mengikuti penanggalan Jawa, sedangkan di daerah Sendang Biru mengikuti penanggalan masehi, hal itu ditujukan karena bersamaan dengan hari jadi pelabuhan yang ada disana.

Proses ritual Petik Laut ini diawali dengan mempersiapkan puluhan perahu yang dihias sedemikian rupa sehingga tampak unik dan nyentrik. Perahu yang dihias tersebut nantinya akan menampung sesajen yang akan dilarung.

Jenis sesajen yang harus disediakan dalam tradisi ini bermacam-macam diantaranya ada kepala kambing, tumpeng besar, tumpeng kecil, ayam kampung muda, ayam putih yang masih hidup, patung loro blonyo, pisang raja, gagar mayang, kembang telon, kembang setaman, kemenyan madu, urap-urap sayuran, buah-buahan, jajanan pasar, pala pendem, padi gedengan, jenang sengkala, kelapa gading, cok bakal, serta berbagai macam ikan yang dihasilkan dari laut tersebut.

Sesajen tersebut dipersembahkan untuk Roh yang dianggap telah menjaga Pantai Selatan, yaitu kepada Ratu Laut Selatan atau biasa dikenal Nyi Roro Kidul.

Setelah perahu dan isi sesajen sudah lengkap, perahu akan diangkat dan diarak ke dermaga bersama-sama oleh warga. Kemudian sesampainya di dermaga, perahu tersebut dinaikkan ke sampan dengan tumpeng besar setinggi dua meter. Sebelum puluhan perahu dilepas ke laut, prosesi pemotongan tumpeng akan dilakukan oleh para tokoh masyarakat setempat.

Lalu perahu yang telah diisi beragam sesajen tadi dilepas ke tengah lautan oleh perahu nelayan. Proses itu disebut sebagai “Larung Sesaji”. Sesampainya di tengah laut, perahu yang berisi makanan dan sesajen tadi diperebutkan oleh masyarakat.

“Wisata Petik Laut ini sangat menunjang sekali pariwisata di Jawa Timur, terutama di Kabupaten Malang, ini sangat mendukung sekali yaitu pariwisata-pariwisata yang ada di Kabupaten Malang.  Semoga ini tetap berjalan dan terus dilanjutkan,” ujar salah satu wisatawan yang mengikuti acara tersebut, dikutip dari terakota.id.

Oleh karena itu selain menjadi tradisi masyarakat nelayan, Petik Laut Sendang Biru  juga bisa menjadi agenda wisata tahunan khususnya di Malang. Petik Laut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong lokal maupun mancanegara, sehingga tradisi ini patut dijaga kelestariannya agar tidak dilupakan. (Fiq)

Penulis: Moh. Fiqih Aldy Maulidan

Editor: Rofidah Noor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *