Digebuk Sejak Tahun 1920, Sate Ini Melegenda

Sate Gebug Makanan Legendaris di Malang (Foto: Fauzi)

DIORAMALANG.COM, 9 APRIL 2020- Berbicara tentang kota Malang, pasti ada banyak hal yang bisa diingat dari kota itu. Mulai dari desitinasi wisatanya, institusi pendidikan yang memenuhi kota, hingga tempat kuliner. Salah satu tempat kuliner yang paling berkesan adalah warung Sate Gebug. Warung sate yang satu ini lokasinya berada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat, Kayutangan, Kota Malang. Berbeda dengan warung sate lainnya yang hanya mengandalkan cita rasa makanan dan kenyamanan tempat makan, disini kamu akan disuguhi nikmatnya mencicipi sate sekaligus mengenang Malang tempo dulu. Tak Ayal, hal ini bisa kamu rasakan karena warung Sate Gebug sudah buka sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia, yakni pada tahun 1920. Sudah sangat tua bukan?

Menurut Ana Christalina Siuriwati Suryorini dalam jurnal arsitektur “NALARs” volume 9, Kota Malang sebagai daerah yang dikelilingi oleh perkebunan berkembang secara pesat pada tahun 1917 sebagai daerah permukiman yang direncanakan oleh Ir. Herman Thomas Karsten, perencana kota berwarga negara Belanda.

Maka tak heran apabila suasana warung yang berlokasi di tengah kota tersebut kental dengan nuansa Belanda nya. Selain itu warung Sate Gebug juga sengaja mempertahankan keaslian bangunannya supaya punya feel tersendiri ketika  datang dan menikmati makanan disini.

Bangunan warung ini mulanya hanyalah sebuah gardu listrik yang ada pada masa kolonial, kemudian beralih fungsi menjadi toko es batu hingga pada tahun 1920 dibeli oleh pasangan Yahmon dan Karbuwati dan diubah menjadi warung sate. Bukan hanya bangunannya saja, namun desain interiornya pun juga dipertahankan untuk menjaga nilai keaslian agar tercipta atmosfer ala tempo dulu yang bisa digunakan untuk bernostalgia.

Nama Sate Gebug sengaja dipilih karena cara memasak sate yang harus digebuk. Uniknya lagi, Sate Gebug punya kebiasaan unik ketika akan menyajikan hidangannya. Pertama, daging yang digunakan oleh warung ini hanya bagian lulur sapi saja.

Selain itu, ia tidak menggunakan bagian daging lainnya karena akan mengubah cita rasa sate. Kedua, warung Sate Gebug hanya menggunakan empat supplier daging sapi yang terpercaya agar dapat menyediakan daging dengan kualitas terbaik. Apabila dari keempat supplier tidak dapat memenuhi kebutuhan warung sate, maka Sate Gebug lebih memilih untuk tutup dan menyajikan hidangannya di lain hari.

Untuk cara memasaknya, disini daging yang akan diolah harus digebuk atau dipukul-pukul hingga lembut terlebih dahulu. Kemudian sebelum dibakar di bara api, sate yang sudah digebuk dicampur dengan bumbu rempah pilihan serta saus kecap. Baru setelah itu sate bisa dimasak dan dihidangkan.

Satu tusuk sate disini dibanderol dengan harga Rp 25 ribu. Sekilas terlihat mahal memang. Tapi mengingat ukurannya yang besar, rasanya yang nikmat dan cara penyajiannya yang butuh upaya besar, maka nggak ada salahnya untuk mencoba sate disini. Selain sate, warung ini juga menyediakan menu pendamping seperti sayur sop, soto, rawon, dan aneka gorengan yang pasti cocok banget untuk dimakan bersama sate.

“Saya kesini sudah dua kali ini dan alasan saya kenapa pengen balik makan disini tuh karena dagingnya ini diolah dengan unik. Sama dikasih bumbu yang enak juga, ada bumbu kecap sama sambel yang pedes dan Sop, jadi menambah kesegaran juga sih” ujar Tomi selaku pengunjung warung Sate Gebug.

Terbukti bahwa Sate Gebug memang enak dan ngangenin. Jika sedang bertandang ke kota Malang, pastikan dirimu untuk datang ke warung Sate Gebug yang berada di Kayutangan. Rasakan langsung sensasi manis dan nikmatnya sate serta segarnya sop yang ada di warung tersebut. (Rof)

Penulis: Rofidah Noor

Editor: Alvien Wardhana

1 thought on “Digebuk Sejak Tahun 1920, Sate Ini Melegenda

  1. aku pernah ke sate gebug sekali dan nagih banget, pengen kesana lagi tapi belom ada waktu buat ke malang lagi 😔

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *