Bioskop Kelud, Kebanggaan yang Kini Hanya Diselimuti Kabut

Tembok yang digunakan sebagai layar yang kini tidak lebih dari bangunan tua (gambar diambil dari tarifani blog)

MALANG, DIORAMALANG.COM – Halo ker! Jika di Malang mulai dipenuhi mal yang di dalamnya terdapat bioskop yang nyaman dan mewah, maka di pusat Kota Malang kamu dapat menjumpai sebuah bioskop zaman dulu yang kini hanya tersisa puing-puing peninggalan pada masa kejayaan dulu. Salah satu hiburan  yang hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan sajian tontonan bagi lapisan masyarakat apapun. Hingga saat ini, puing-puing yang tersisa masih menjadi saksi bisu betapa ramainya pengunjung pada masa itu.

Ya, Bioskop Kelud merupakan awal dari sebuah hiburan yang dibanggakan oleh warga Malang pada masanya. Bioskop yang terletak di Jalan Kelud, Kecamatan Klojen, Kota Malang tersebut memiliki julukan “Bioskop’e Rakyat”.

Laporan dari Merdeka.com, menjelaskan bahwa masa kejayaan bioskop tersebut adalah pada tahun 70-80 an. Tempat hiburan tersebut menyediakan harga tiket yang lebih murah sehingga kalangan menengah kebawah juga bisa menikmati menonton film. Itulah mengapa Bioskop Kelud menjadi primadona bagi warga Malang pada kala itu.

Dalam channel youtube Story Of Sense, Joko Unang yang merupakan ketua Yayasan 8 Penjuru Angin dan sebagai pengurus yang menaungi Bioskop Kelud menjelaskan bahwa bioskop tesebut mulanya didirikan oleh Korps Brimob.

Tujuan dari didirikannya Bioskop Kelud adalah untuk menambah kesejahteraan prajurit. Ditambah lagi dengan harga yang murah, banyak lapisan masyarakat yang tertarik untuk menonton di Bioskop Kelud mulai dari mahasiswa, supir, kuli, hingga pekerja pabrik.

Maka dari itu, muncul lah julukan Bioskop’e Rakyat karena semua golongan bisa menikmati film yang diputar. Antusias masyarakat Malang dalam menonton film di Bioskop Kelud pada saat itu sangatlah besar hingga mencapai 7000 penonton. Hal tersebut mejadi bukti bahwa Bioskop Kelud memang menjadi Bioskop’e Rakyat Malang pada masa itu.

Film yang disajikan pun beragam genrenya mulai dari film laga seperti silat dan karate, film Hollywood seperti koboi, film India, hingga film sejarah seperti Saur Sepuh Dan Brama Kumbara.

“Bioskop Kelud itu identik dengan film India yang pastinya ramai karena murah. Sedih saat ini karena gak bisa lagi nikmati suasana gedung Bioskop Kelud lagi,” ujar Mulyadi, salah satu warga Malang yang pernah menikmati Bioskop Kelud. Lalu, mengapa bioskop yang menjadi kebanggan rakyat pada masa itu, kini hanya tinggal sejarah ?

Seiring berjalannya zaman, Bioskop Kelud kian tergerus ketenarannya oleh perkembangan teknologi seperti televisi dan munculnya bioskop-bioskop mewah yang ada di mall megah. Eksistensi Bioskop Kelud saat ini sudah tergantikan oleh bioskop yang memanjakan para pengunjungnya. Keberadannya yang di luar ruangan dengan tempat duduk sederhana, membuat masyarakat berpaling ke bioskop-bioskop yang lebih nyaman dengan menggunakan AC dan tempat duduk yang empuk.

Walaupun namanya sudah tergeser dan tak lagi beken, setidaknya Bioskop Kelud pernah menghiasi dunia hiburan yang menjadi kebanggaan rakyat Malang pada masa itu sebagai Bioskop’e Rakyat. Kamu bahkan masih bisa menyaksikan peninggalan Bioskop Kelud berupa puing-puing sisa masa kejayaan yang bisa ditemui di lokasi bioskop. Lepas dari masa kejayaannya, lahan yang mulanya digunakan masyarakat untuk menonton film itu kini dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai lahan parkir mobil.

Meskipun perlahan dilupakan, upaya dalam menghidupkan suasana Bioskop Kelud masih bisa dijumpai. Melalui alih fungsi tempat, Bioskop Kelud digunakan sebagai acara lain dimana bioskop tersebut seolah-olah muncul kembali namun dengan konsep yang berbeda. Salah satunya adalah kegiatan Festival Pasar Buku Keliling bertajuk “Patjarmerah” yang diselenggarakan di tempat tersebut.

“Ya acaranya ramai, apalagi di hari pertama itu ramai banget. Orang beli buku sampai lima bahkan lebih karena memang harga bukunya murah jadinya banyak orang datang,” ungkap Alviana Mariska, salah seorang pengunjung acara Patjarmerah. Suasana yang ramai pada acara tersebut, seakan-akan mengingatkan kembali betapa ramainya bioskop kebanggan rakyat pada masa itu. Acara-acara yang diselenggarakan di Bioskop Kelud akan semakin menambah goresan sejarah tentang hiburan yang pernah menjadi primadona rakyat.

Penulis: Alvien Wardhana

Editor: Rofidah Noor

2 thoughts on “Bioskop Kelud, Kebanggaan yang Kini Hanya Diselimuti Kabut

  1. – panjang artikel hanya 381, jauh dari ketentuan minimal 600 kata, MAKA:
    – coba digali lebih lanjut data dari kalimat terakhir di paragraf 3 “Film yang disajikan pun beragam genrenya mulai dari film laga, film Hollywood, film India hingga film sejarah.” uraikan keseruan nonton di sana, temukan orang yang pernah nonton di sana, wawancara mereka.
    – jelaskan alih fungsi bioskop kelud donk, kan beberapa waktu lalu Patjar Merah kan pameran buku, bedah buku, diskusi dll. itu bagian dari sejarah bioskop kelud..
    – tanggapan warga sekitar bagaimana terhadap biokop kelud..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *